Petani Muda Siap Jadikan Indonesia Lumbung Pangan

Ekonomi | DiLihat : 757 | Senin, 24 September 2018 | 10:02
Petani Muda Siap Jadikan Indonesia Lumbung Pangan

                       Penghasilan bertani mampu menyaingi gaji PNS dan pegawai swasta
LEMBANG -- Tren bertani tidak lagi dimiliki para orang tua atau profesi warisan orang tua. Bertani kini menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Penghasilan bertani  mampu menyaingi gaji PNS dan pegawai swasta. Tidak heran jika bertani kini menjadi sebuah profesi yang diminati oleh kaum muda.

Ulus Pirmawan, salah satu sosok petani sayur yang sukses dan tidak bisa dianggap sebelah mata. Ulus merupakan seorang tokoh pemuda tani yang berjuang di sektor pertanian. Ulus berdomisili di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Cibodas, Lembang, Jawa Barat. Kerja kerasnya mampu menunjukkan petani adalah profesi yang menjanjikan.

Ulus banyak belajar mengenai pertanian secara otodidak. Ia rajin mengikuti pelatigan yang diadakan Dinas Pertanian maupun lembaga atau perusahaan yang kompeten dengan dunia pertanian. Ulus pernah menjadi supplier dan pada 2005 mendirikan Kelompok Tani Baby French.

“Setelah sukses dengan Kelompok Tani Baby French, saya kembali dirikan gabungan kelompok tani yang diberi nama Wargi Panggupay,” kata Ulus di Lembang, Sabtu (22/9).

Wargi Panggupay membawahi delapan kelompok tani produktif. Seluruh kelompok tani ini berperan aktif dan terlibat langsung dalam program tanam. Wargi Panggupay juga melakukan kerja sama dan menjalin kemitraan dengan Eksportir.

“Yaitu PT Alamanda Sejati Utama, Fortuna Agro Mandiri (Farm/Multi Fresh) dan supplier supermarket,” ujarnya.

Menurut Ulus, sebagai penerus bangsa, pemuda bisa lebih terbuka dalam bidang pertanian. Pertanian sebuah profesi dengan masa depan yang baik, pengaturan waktu dan kerja sendiri, serta penghasilan yang bagus. “Pasar dalam negeri masih membutuhkan. Peluang di pasar ekspor juga masih terbuka luas. Indonesia harus jadi lumbung pangan dunia,” ucap Ulus.

Petani muda lainnya adalah Doni Pasaribu. Doni lulusan sarjana pertanian yang memutuskan sepenuh hati memilih pertanian sebagai jalur bisnis.

Bermodal pengalaman dan pengetahuan, usahanya terus berkembang menjadi ladang bisnis menguntungkan, berkelanjutan dan berkesinambungan. Bahkan dirinya mampu meregenerasi anak - anak muda di sekitarnya untuk giat bertani.  "Ini adalah panggilan hati. Dulu orang bertani karena keturunan. Sekarang saya sendiri memilih jadi petani,” Doni.

Doni mengaku prihatin apabila lahan pertanian tidak dimaksimalkan. Pemuda berusia 22 tahun ini nyaman dengan profesi sebagai petani karena memiliki fleksibilitas waktu namun tetap berpenghasilan mencukupi.

"Kalau lahan pertanian  tidak digunakan bertani maka lahan yang ada lama - lama bisa habis. Inilah kesempatan menghancurkan doktrin negatif bertani sulit kaya. Bertani bisa sukses. Sayang kalo sarjana pertanian tapi tidak bertani. Penghasilan saya memang di bawah Pak Ulus tapi penghasilan saya bisa melebihi dari seorang PNS,” paparnya penuh semangat.

Selain Ulus dan Doni, Umbara juga sosok petani muda yang sukses. Umbara merupakan lulusan SMK Komputer. Meski baru berusia 21 tahun, Umbara sudah mampu mengisi pasokan pasar retail wilayah Bandung sampai Jakarta.

"Seharusnya menjadi petani itu bangga. Di sini banyak orang tuanya yang petani tapi anaknya tidak mau bertani. Kita harus meningkatkan potensi diri. Pendapatan minimal  saya Rp200 ribu per hari,” kata Umbara ketika ditanyakan berapa nilai penghasilannya.

Umbara memaparkan, penghasilan sebesar itu adalah angka minimal yang dapat diperolehnya sehari - hari. Tidak jarang dia mampu menghasilkan berkali - kali lipat. Pemuda asli Desa Suntenjaya ini optimistis tidak akan beralih profesi.

republika


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau