Berburu bayam jepang, si kaya klorofil

Peluang Usaha | DiLihat : 193 | Rabu, 19 September 2018 | 10:05
Berburu bayam jepang, si kaya klorofil

Tren gaya hidup sehat makin berkembang. Ini membuat permintaan beberapa jenis sayuran hijau meningkat. Terutama dengan label organik. Label ini selalu bisa menarik minat masyarakat yang menerapkan pola hidup sehat.

Salah satunya adalah bayam Jepang atau yang sering disebut horenso. Sayuran ini termasuk tanaman sayur dataran tinggi. Horenso bisa tumbuh baik pada daerah di atas 500 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, horenso sering ditanam secara hidroponik maupun konvensional dengan tanah.

Nah, yang membuat tanaman ini makin digemari adalah teksturnya yang lain dari bayam lainnya. "Horenso lebih empuk,  jadi masaknya tidak perlu terlalu lama," ungkap Dian Mega Putri, pemilik Pondok Hijau asal Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pondok Hijau milik Dian membudidayakan horenso di lahan seluas sekitar 120 meter persegi (m²). Dian mengatakan dalam sekali panen, lahan tersebut bisa menghasilkan 30 - 40 kilogram (kg) horenso. Hasil panen selalu habis tidak lama setelah waktu panen.

Konsumen Pondok Hijau datang dari sekitar Lembang, Bandung, Cisarua dan Bogor.  Dalam seminggu, Dian bisa menjual sekitar 200 kg sampai 300 kg bayam Jepang. Bila satu kilogram horenso dibanderol Rp 18.000, maka dalam sebulan ia sanggup mengantongi omzet sampai Rp 20 juta per bulan dari horenso. Selain itu ia juga menjajakan romaine lettuce dan sawi pagoda.

Selain Dian, petani sayur lain yang juga mendapat keuntungan dari budidaya horenso adalah Saraswaty Kusumawardani asal Lembang, Jawa Barat. Ia bersama suami membudidayakan horenso sejak 2015.

Beruntung, permintaan bayam Jepang ini makin meningkat tiap tahunnya. "Tahun ini kenaikannya bisa empat kali lipat dibanding 2015. Peminat juga makin banyak, mulai dari restoran, hotel, supermarket sampai untuk konsumsi pribadi," ujar Saras.

Ia membanderol horenso hasil panennya sekitar Rp 25.000 per kg. Dalam sebulan, ia bisa menjual 800 kg sampai 1 ton horenso. Alhasil, ia meraup omzet puluhan juta rupiah per bulannya.

Ia akui bila kebanyakan pembeli produknya adalah para pebisnis. Seperti ritel, restoran atau rumah makan. Maklum, ia memberlakukan pembelian minimal sebanyak  10 kilogram (kg).

Konsumen Saras datang dari masyarakat sekitar Lembang, Bandung, Bogor, Tangerang, Jakarta, Depok dan Bekasi. Ia menjelaskan horenso banyak disukai konsumen karena teksturnya yang lebih lembut dan padat. Selain itu, kandungan klorofilnya lebih banyak, sehingga dipercaya bermanfaat untuk mencegah penyakit kanker.          

kontan


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau