Petani singkong kewalahan penuhi kebutuhan industri

Ekonomi | DiLihat : 122 | Kamis, 13 September 2018 | 10:04
Petani singkong kewalahan penuhi kebutuhan industri

JAKARTA. Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) bergandengan meningkatkan kualitas dan penyerapan singkong dalam negeri. Khususnya melalui sistem tanam kluster untuk mengatasi keterbatasan petani.

Menurut Ketua MSI Suharyo Husein, Gapmmi sudah berinvestasi ke pabrik tapioka di Sulawesi Selatan dengan kapasitas 1.000 ton singkong per hari, dan akan di tingkatkan menjadi 4.000 ton per hari.Petani belum bisa memenuhi bahan baku yang dibutuhkan pabrik, karena petani masih kekurangan dana dan belum ada investor yang menanam modal.

"Kita dari segi petaninya kewalahan karena tidak ada investor yang mau menanam singkongnya. Menggantungkan ke petani yang dananya sangat terbatas," lanjut Suharyo, Rabu (12/9).

Lantaran keterbatasan produksi singkong dari petani ini, saat ini masih banyak tapioka impor atau Mocaf (Modified Cassava Flour).

"Singkong yang di tanam oleh petani masih rendah produktivitasnya sekitar 30 ton per hektare (ha). MSI menginginkan 60 ton per ha. Ini perlu permodalan sehingga petani bisa menanam sendiri. Namun, untuk kualitasnya masih bagus sesuai yang dianjurkan oleh MSI," kata Suharyo.

Melalui sistem kluster diharapkan memenuhi kebutuhan bahan baku industri yang berbasis singkong dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Namun menurut Ketua Umum Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang, singkong tidak bisa menjadi substitusi gandum. Karena singkong tidak memiliki bahan-bahan tertentu yang ada di gandum salah satunya daya lekat dan singkong masih impor.

kontan


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau