Pengembangan Kopi Harus Dimulai dari Hulu?

Ekonomi | DiLihat : 652 | Senin, 03 September 2018 | 10:32
Pengembangan Kopi Harus Dimulai dari Hulu?

Wamena - Berbicara tentang pengembangan kopi Arabica Wamena di Jayawijaya Papua, sangat erat kaitannya dengan kerja sama berbagai pihak, mulai dari petani, pemerintah, perbankan, hingga BUMN dan NGO, hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Jayawijaya Hendri Tetalepta.

Dikatakannya, pengembangan komoditi kopi penting dilakukan, terutama di bagian hulu, atau  dimulai dari pembibitan, pembukaan lahan, perawatan, hingga proses panen.

"Pengembangan di sektor hulu, hingga saat ini masih didominasi oleh pemerintah dan belum ada pihak BUMN atau NGO yang terjun ke sektor ini," katanya belum lama ini.

Menurutnya, untuk sektor hilir banyak pihak yang terlibat mulai dari TNI/Polri, perbankan, dan banyak lagi pihak yang berminat di sektor hilir.

“Jadi kalau disektor hulu tidak kuat, atau tidak ada produksi maka ini akan stop dan berhenti dengan sendirinya,” ujarnya.

Hingga saat ini  pemerintah yang masih dominan di hulu dan belum ada sektor manapun yang membantu pemerintah. Sehingga jika ada komentar misalkan, dari pihak swasta yang mengatakan ikut berkecimpung di hulu itu tidak benar.

“Sebetulnya, kita berharap ada sinergitas dari semua pihak, misalnya perbankan melalui program CSRnya bisa membantu kami di hulu, tapi sampai sekarang belum ada, karena coastnya cukup besar, juga permasalahan lahan karena lahannya milik adat,” jelasnya.

Sementara untuk animo masyarakat menurut Hendri, selalu ada terutama untuk membuka lahan perkebunan, namun kembali lagi harus disesuaikan dengan kemampuan daerah, alokasi provinsi, dan juga APBN.

“Kita berharap, pihak perbankan dan BUMN yang punya dana CSR, bisa membantu kami di hulu, kalau kami menyediakan benih, mereka dukung dengan peralatan. Namun selama ini CSR hanya ada di sektor hilir, dalam arti pengembangan pemasarannya yang sudah jadi dalam bentuk biji kopi,” ujarnya.

Diakuinya,  sampai dengan saat ini tenaga kerja  di perkebunan kopi, mayoritas tenaga kerja usia non-produktif atau tenaga kerja usia tua. Sedangkan tenaga kerja produktif, lebih cenderung ke kota dengan pekerjaan yang tidak jelas.

Oleh karena itu pihaknya melalui bagian penyuluhan, terus mendorong pendampingan dan sosialisasi agar bisa menarik kembali anak-anak muda yang produktif, untuk kembali ke kebun.

Untuk luas lahan perkebunan kopi, lanjutnya, hingga saat ini ada 910 hektar lahan produktif, 350 hektar diantaranya lahan yang baru ditanam dan belum berbuah, dan 480 hektar masih produksi, dan ada 1.112 hektar yang dikategorikan kebun rusak dan tidak terpelihara.

“Kita punya produksi kopi sampai dengan Desember 2017 sebanyak 127,8 ton tetapi itu produksi dari Jayawijaya dan beberapa kabupaten pemekaran,” pungkasnya.

wartaekonomi


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau

Video Terbaru

Video Playlist +