Kementan kendalikan Lalat Buah Salak untuk Kebutuhan Ekspor

Ekonomi | DiLihat : 816 | Selasa, 28 Agustus 2018 | 10:43
Kementan kendalikan Lalat Buah Salak untuk Kebutuhan Ekspor

BANJARNEGARA - Salak merupakan komoditas asli Indonesia dan mempunyai prospek yang cukup baik untuk pasar lokal maupun luar negeri. Pada 2017, luas panen salak adalah 22.514 hektar dengan volume produksi 953.845 ton dengan rata produktivitas 21,8 kilogram per pohon.   Daerah sentra produksi salak antara lain di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara. Salak Pondoh dari Sleman dan Magelang sangat terkenal baik di pasar lokal dan ekspor   Selain itu, Kabupaten Banjarnegara termasuk sentra produksi salak di Jawa Tengah dengan area luas panen 8.888 hektar.

Tidak kurang dari 30.000 kepala keluarga (KK) menggantungkan hidup dari salak, untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anaknya. Dalam upaya peningkatan produksi baik kualitas maupun kuantitas, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yaitu lalat buah yang berdampak menurunnya pendapatan petani diatasi dengan gerak cepat, serentak, dan intensif.

Sosialisasi penanganan lalat buah
Kementerian Pertanian segera turun tangan untuk mengatasi hal tersebut. Bahkan, Direktur Perlindungan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf turun langsung ke lapangan untuk melakukan sosialisasi penanganan lalat buah pada salak.   Sosialisasi dilakukan kepada kelompok tani dan pengepul/pedagang Salak di Desa Gunung Giana, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara (24/8/2018).   Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, keberhasilan pengendalian lalat buah dapat dicapai apabila dilakukan secara serentak dalam areal yang luas dan berkesinambungan serta melibatkan instansi terkait. Beberapa teknologi pengendalian lalat buah yang sederhana dan mudah diterapkan oleh petani antara lain pemerangkapan dengan zat penarik/atraktan, sanitasi buah busuk oleh lalat buah, kemudian pemusnahan.

Adapun pemusnahan lalat buah bisa dengan cara mengubur, membakar, membungkus, dan merebus (4M). Selain itu, pengendalian lalat buah dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami yang ada dan konservasi musuh alami dengan menanam refugia sebagai tempat hidup parasitoid serta melakukan sanitasi kebun secara intensif.   Kementan memberikan bantuan sarana pengendalian lalat buah sebagai stimulan bagi petani dalam pelaksanaan pengendalian lalat buah di lahan usaha taninya.   “Mari kita bersama sama kembalikan kuantitas dan kualitas produksi salak Banjarnegara sehingga ekspor naik dan  kesejahteraan petani salak meningkat,” kata dia.

“Tentunya hal ini akan disinergikan kegiatannya instansi terkait dan Badan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah,” kata dia.   Potensi pasar salak Banjarnegara sangat besar untuk memenuhi pasar lokal.  Sebagai informasi, perusahaan ekspedisi Setia Kawan melakukan pengiriman buah salak Banjarnegara antara lain ke Pasar Cikopo, Cibitung, Kramat Jati, Tanah Tinggi, Angke, Rau Serang, dan Cilegon dengan jumlah pengiriman rata-rata per hari 50 truk pada musim panen raya dan 20 truk pada off season.   Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal, produk salak Banjarnegara juga telah menembus pasar luar negeri melalui eksportir di Sleman, Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah.

kompas


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau

Video Terbaru

Video Playlist +