Menghitung cuan si ratu daun aglaonema

Peluang Usaha | DiLihat : 1899 | Senin, 20 Agustus 2018 | 12:43
Menghitung cuan si ratu daun aglaonema

Beberapa tahun lalu, aglaonema sempat naik daun. Bahkan harganya cukup melambung tinggi hingga jutaan rupiah untuk satu pot. Penentuan harga aglaonema juga kerap didasarkan pada banyaknya jumlah daun.

Nawawi Kiwie, pembudidaya sekaligus penjual aglaonema di Tangerang Selatan, Banten pun mengamininya. “Untuk aglaonema jenis tertentu, memang ada yang harganya tergantung banyaknya daun. Bahkan, satu daun bisa mencapai Rp 350.000,” kenangnya.  

Sudah hampir lima tahun Nawawi membudidayakan aglaonema. Ia bilang, hingga kini, permintaan tanaman daun tersebut masih terus ada, meski tidak sebanyak dulu saat booming.

Selain itu, harga aglaonema pun saat ini makin bervariasi, mulai dari yang paling murah, yakni puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Sehingga makin banyak kalangan bisa mengoleksi aglaonema.

“Makin ke sini, variasinya makin banyak, jadi harganya makin variatif juga. Kalau punya saya paling murah dari harga Rp 25.000 sampai jutaan rupiah ada. Saya menjual 108 jenis aglaonema,” kata Nawawi.

Jenis Aglaonema yang dibanderol jutaan rupiah per pot, seperti goliath, khanza, harlequin dan lady valentine. Deretan jenis aglaonema tersebut harganya mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 7,5 juta per pot, tergantung jumlah dan ukuran daun.       

Taufik Hambali, pembudidaya aglaonema asal Kediri, Jawa Timur juga mengatakan jika saat ini harga tanaman tersebut makin beragam lantaran jenisnya yang makin banyak. Banyaknya jenis aglaonema ini lantaran kian banyaknya persilangan jenis aglaonema asal luar negeri dengan jenis lokal.

“Aglaonema masuk ke Indonesia sudah cukup lama. Dulu, kebanyakan dari Thailand. Lalu banyak juga yang disilangkan dengan varietas lokal, jadi sekarang makin banyak jenisnya,” tuturnya. Taufik sendiri menjual aglaonema mulai Rp 15.000 sampai jutaan rupiah per pot.  

Baik Taufik maupun Nawawi sama-sama mengungkapkan, permintaan Aglaonema masih tinggi. Terbukti dari hasil penjualan mereka yang mencapai 200 – 300 pot tiap minggu.

Bahkan Nawawi mengaku dirinya bisa mengantongi omzet Rp 30 juta–Rp 75 juta per bulan. “Kalau sedang ramai, satu hari omzet saya bisa sampai Rp 10 juta. Seminggu saya bisa jual 200 pot untuk satu jenis aglaonema,” tuturnya.

Begitu pula dengan Taufik yang juga bisa mengantongi omzet sampai Rp 50 juta per bulan. Pelanggan Taufik maupun Nawawi berasal dari seluruh daerah di Indonesia mulai Aceh, Makassar, Lombok, Bali, Balikpapan, sampai Timika di Papua.

Sebagian besar pelanggan yang membeli Aglaonema di lapak Taufik dan Nawawi biasanya untuk dijual lagi. Aglaonema tak tahan air dan sinar matahari langsung

Aglaonema merupakan tanaman hias yang banyak ditanam di dalam pot. Warna dan corak daunnya menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar tanaman hias. Oleh karena itu, butuh perawatan yang tepat agar tanaman daun ini bisa tahan lama menghiasi rumah Anda.

Nawawi Kiwie, pembudidaya sekaligus penjual aglaonema asal Karang Tengah, Tangerang Selatan, Banten mengatakan, aglaonema butuh komposisi media tanam yang pas agar bisa tumbuh dengan baik. Media tanam sebaiknya memiliki tingkat keasaman (pH) netral antara 6-7.

Ia memakai campuran pasir dan pupuk untuk media tanamnya. "Perbandingan pasir dan pupuk sekitar 3 : 1. Di bagian dasar pot juga bisa diletakkan pecahan bata merah atau genting," jelas Nawawi. Bila media tanam tak sesuai, aglaonema bisa tidak tumbuh atau cepat busuk.

Selain itu, hal kedua yang harus diperhatikan dalam perawatan aglaonema adalah penyiraman dan pemberian pupuk. Taufik Hambali, pembudidaya dan penjual aglaonema asal Kediri, Jawa Timur mengatakan, penyiraman tanaman tak bisa terlalu sering. Pasalnya, jika terlalu banyak air yang masuk, bakal memicu pembusukan akar.  

"Aglaonema ini termasuk tanaman yang cepat menyerap air. Tanaman ini tak boleh terlalu kering tapi tak boleh terlalu basah juga. Harus pas. Jadi, penyiraman bisa dilakukan sekitar dua atau tiga hari sekali. Kalau udara sedang lembab bisa seminggu sekali," terangnya.

Taufik menambahkan, tanaman aglaonema juga tidak bisa terkena sinar dan panas matahari langsung. Jadi sebisa mungkin tanaman ini ditempatkan pada tempat teduh.

Sebab, jika terlalu banyak terkena panas matahari langsung, daun-daun indahnya akan berubah warna menjadi kecokelatan.

Untuk pemupukan, Nawawi maupun Taufik menuturkan, pemberian pupuk sebaiknya diaplikasikan setiap tiga atau empat bulan sekali. Pemberian pupuk yang rutin bisa merangsang tanaman cepat tumbuh.

"Aglaonema ini jenis tanaman hias yang cukup lama tunasnya. Dari bonggol sampai tunas butuh waktu sekitar lima sampai enam bulan," ujar Nawawi.

Karena proses budidayanya  cukup lama, tak heran jika beberapa jenis aglaonema dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Untuk memperbanyaknya, Nawawi dan Taufik sama-sama menggunakan cara potong bonggol.

Sedangkan, bibit aglaonema awal mereka dapatkan dari indukan  masing-masing jenisnya.

Seperti kebanyakan tanaman daun pada umumnya yang rentan diserang hama ulat, aglaonema pun juga demikian. Tiap helai daun indahnya sangat rentan ulat pemakan daun.

Maka, penting untuk rutin menyemprot daun-daun aglaonema dengan vitamin dan pestisida agar tetap indah. "Semprot vitamin dan pestisida harus rutin, biar daunnya awet dan nggak dimakan ulat. Lalu, biar daunnya mengkilap, bisa juga sesekali disemprot pakai air, susu atau ampas kelapa," tandasnya.    

kontan