Mengantisipasi Peningkatan Kebutuhan Pangan

Ekonomi | DiLihat : 146 | Jumat, 10 Agustus 2018 | 09:59
Mengantisipasi Peningkatan Kebutuhan Pangan

Pemerintah diminta mewaspadai dan mengambil langkah antisipasi dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat karena permintaan dan konsumsi diproyeksikan terus meningkat khususnya komoditas penting.

Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa peningkatan permintaan dan konsumsi pangan Indonesia, harus diimbangi dengan optimalisasi sumber daya yang semakin terbatas untuk memenuhi pasokan kebutuhan.

"Kita harus mengoptimalkan sumber daya yang makin terbatas untuk memproduksi komoditas yang benar-benar kita hasilkan. Jangan kita habiskan produksi atau lahan kita untuk hal-hal yang semakin tidak penting," kata Bayu di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Dia menambahkan, salah satu contoh komoditas yang terus mengalami penurunan konsumsi adalah jagung sementara, untuk kebutuhan pakan ternak justru mengalami kenaikan. Berdasarkan hasil studi dan analisis Perhepi, permintaan pangan masa depan di Indonesia ditentukan oleh permintaan saat ini, pendapatan, harga serta komposisi yang ada, dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi perilaku dan tren konsumsi.

Proyeksi konsumsi beras per kapita, secara bertahap meningkat 1,5 persen menjadi 99,08 kilogram per kapita per tahun pada 2025. Untuk unggas, menunjukkan permintaan tertinggi dibandingkan produk hewani lainnya yakni mencapai 22,1 persen, menjadi 9,13 kilogram per kapita.

Konsumsi daging sapi meningkat sebesar 10,3 persen menjadi 2,79 kilogram per kapita, ikan juga meningkat 11 persen menjadi 29,09 kilogram per kapita. Sementara untuk buah dan sayuran, juga diproyeksikan meningkat. Khusus untuk apel, meningkat 55 persen menjadi 1,49 kilogram per kapita.

Beberapa rekomendasi yang menjadi catatan Perhepi adalah, perlu adanya intervensi terhadap konsumsi pangan. Harus diberikan pengetahuan dan sosialisasi bagi masyarakat mengenai konsumsi makanan yang lebih sehat.

Selain itu, ada permasalahan kehilangan atau penyusutan produksi mencapai 30 persen. Penyusutan tersebut terjadi mulai dari pengangkutan, rusak, serta makanan yang tidak termakan. Berbagai masalah tersebut perlu pembenahan perilaku konsumsi masyarakat.

"Sebanyak 70-75 persen kehilangan itu dari sisi produksi. Mulai petani sampai ritel, seperti distribusi, pengolahan, dan penyimpanan. Sisanya yang ada di meja makan," kata Mantan Wakil Menteri Pertanian itu.

Permintaan dan konsumsi pangan yang meningkat memberikan tantangan bagi kebijakan pangan, yang akan berdampak pada tahun-tahun mendatang. Kebijakan peningkatan produksi pangan pokok seperti beras, jagung, dan kedelai tidak memadai untuk memenuhi permintaan yang tumbuh.

Selain itu, populasi yang sedang tumbuh, populasi kelas menengah di Indonesia, dan tingkat urbanisasi yang tinggi menyebabkan perubahan pola makan serta permintaan pangan masa mendatang. Dengan pendapatan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang lebih baik, cenderung membuat konsumen menuntut pangan yang lebih sehat dan terdiversifikasi.

wartaekonomi


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau