Petani Lamongan Panen Raya Padi dengan Metode Refugia

Kabar Desa | DiLihat : 523 | Selasa, 14 Februari 2017 14:04
Petani Lamongan Panen Raya Padi dengan Metode Refugia

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur menggelar panen raya padi dengan konsep tanpa pestisida. Panen raya ini dilakukan di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Selasa (14/2/2017).  

Dalam panen raya yang dihadiri Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati, Komandan Kodim 0812 Lamongan Letkol Inf Sutrisno Pujiono, dan sejumlah Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) tercatat hasil panen tanaman padi tanpa menggunakan pestisida mampu menembus lebih dari 10 ton per hektar.

"Hasilnya 10,3 ton gabah kering panen, kering giling 8,94 ton," ucap Bupati Lamongan Fadeli, dalam tasyakuran panen raya, di Desa Besur. Konsep pertanian ini tak lantas membuat Fadeli mengisyaratkan rasa puasnya, meski hasilnya sudah cukup melimpah.

"Kalau bisa ditingkatkan menjadi 10 ton kering giling," ujarnya. Fadeli mendorong, supaya pertanian di Desa Besur, dikembangkan menjadi pertanian modern. "Dengan pertanian modern hasilnya akan berlipat ganda. Pertanian modern mulai pemilihan bibit, perawatan, panen menggunakan combain," kata dia. Untuk mendorong ke pertanian modern, Fadeli mendorong para kepala desa untuk mengubah pola pikir petani Lamongan, dari pertanian tradisional ke pertanian modern.

 "Petani kita itu sangat tradisional, kita harus mengubah cara pola pikir, kita harus inovasi, kalau mau pertanian maju, kita ubah pola tradisional menjadi pertanian modern, mengubah pola pikir itu sulit, tapi di Desa Besur bisa dengan Sekolah lapang pengendali pertanian hama terpadu (SLPPHT)," tuturnya.  Nah, untuk di ketahui, harga beras tanpa pestisida saat ini mencapai Rp 40.000. Di Besur sendiri ada sebanyak 60 hektar lahan pertanian tanpa pestisida,  dari total lahan seluas 100 hektar.

"Beras yang dari sini kita bantu pasarkan. Desa Besur dari Lamongan untuk Indonesia," ujarnya.  Sebenarnya, tambah Fadeli, konsep yang sama sudah diterapkan di beberapa kecamatan, namun hasilnya kurang menggembirakan.

"Memang pertanian ini baru ada di 36 tempat, ini kita jadikan percontohan. Beberapa daerah sudah menjalankan, di Kecamatan Klitengah, di Mantup, tapi belum maksimal," ucapnya. (*)