Petani Lamongan Budidaya Beras Jepang Bahan Baku Sushi

Ekonomi | DiLihat : 345 | Jumat, 10 Agustus 2018 | 09:34
Petani Lamongan Budidaya Beras Jepang Bahan Baku Sushi

Lamongan - Beras premium jepang atau Japonicum Koshihikari, sukses dibudidayakan petani Lamongan. Bahkan, padi Jepang inipun sukses dibudidayakan di Lamongan secara organik atau tanpa ada campur tangan zat kimia sama sekali.

Padi premium Jepang Japonicum Koshihikari dikembangkan para petani di Desa Besur Kecamatan Sekaran. 

"Awalnya ada perusahaan yang memberikan benih Japonicum Koshihikari untuk dicoba dibudidayakan petani Besur," kata Nuning, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sekaran yang mendampingi para petani saat panen raya.
Perusahaan ini, menurut Nuning, melirik Besur karena sebelumnya telah dikenal sukses bercocok tanam secara organik. Kesuksesan petani Desa Besur bercocok tanam padi secara organik ini diawali inisiatif membuka Sekolah Lapang Pertanian melalui dana desa. 

"Uji coba budidaya beras Japonicum Koshihikari ini rupanya sukses. Sehingga kini petani Desa Besur dipercaya menjadi penyuplai beras Japonicum Koshihikari bagi perusahaan tersebut berapapun hasil panen para petani," terangnya.

Berdasar data Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Lamongan, sampai akhir Juli ini produksi padi Lamongan sudah mencapai 814.512 ton dengan rata-rata produktivitas 7,2 ton per hektare. Sedangkan, Japonicum Koshihikari adalah salah satu jenis beras dari Jepang yang sangat populer di Negara Sakura. Karakter berasnya yang manis dan lengket, sehingga menjadi pilihan favorit untuk membuat sushi.Camat Sekaran, Yuli Wahyuono menjelaskan, Sekolah Lapang Pertanian yang ada di Desa Besur ini menjadi embrio Program Tanaman Sehat di wilayahnya. Dari embrio inu, saat ini sudah dibuka sekolah serupa di lima desa lainnya di Kecamatan Sekaran, yaitu Desa Porodeso, Bulutengger, Kembangan, dan Kebalankulon. 

"Dengan bertani secara organik, rata-rata produktivitasnya bisa mencapai 9,8 ton per hektare, Sementara ongkos produksi juga jauh berkurang karena ongkos pupuk kimia yang biasanya Rp 2 juta perhektare, kini dengan pupuk organik hanya Rp 600 ribu perhektare," papar Yuli.

Secara manajemen, terang Yuli, saat ini sedang dilakukan penataan pemasaran agar beras Besur dan sekitarnya yang organik itu bernilai lebih tinggi. Salah satunya dengan mengajukan sertifikasi Prima kepada Otoritas Kompetensi Kemanaan Pangan Daerah (OKKPD) dan Otoritas Keamanan Pangan Pusat (OKKPP). Saat ini beras produksi petani Desa Besur dan sekitarnya sudah mengantongi sertifikat Prima 3, yang menjamin produknya aman dari pestisida. "Mereka kini tengah mengajukan sertifikasi Prima 2 yang selain aman pestisida juga terjamin mutunya," jelasnya.

Sementara, Bupati Fadeli saat menghadiri Panen Tanaman Sehat di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran menyampaikan apresiasinya atas inovasi yang dilakukan petani. Selain berasnya sehat, produktivitas yang tinggi sudah bisa dicapai dengan menggunakan varietas non hibrida. 

"Ke depan saya harap agar dibuka pula lahan percontohan untuk varietas hibrida yang ditanam secara organik," harapnya.

Petani Lamongan Budidaya Padi Premium Jepang Bahan Baku Sushi (hns/hns)

detik


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau