Petani Malas Jual Gabah ke Bulog, Ini Sebabnya

Ekonomi | DiLihat : 123 | Selasa, 07 Agustus 2018 | 09:39
Petani Malas Jual Gabah ke Bulog, Ini Sebabnya

Perum Bulog telah menetapkan target pengadaan beras pada tahun ini sebesar 2,7 juta ton. Untuk dapat merealisasikan target tersebut, Bulog harus menyerap beras minimal 17 ribu ton per hari.Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, Bulog akan kesulitan merealisasikan target tersebut karena tidak terjun langsung sampai ke tingkat petani. Sementara petani enggan mengirim ke gudang atau Divre Bulog karena tidak ada kepastian pembelian dan memakan biaya.

“Petani itu tidak mau kirim ke Bulog, kalau mau (Bulog) beli saja di tempat. Kalau dikirim ke Bulog aturan banyak, jadi bisa ditolak. Kalau ditolak menghabiskan biaya transportasi. Jadi bisa enggak mereka beli beras di tempat?” katanya saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (6/8).

Winarno mengungkapkan bahwa Perum Bulog tidak dipersiapkan untuk menerima gabah langsung dari petani karena mereka tidak memiliki mesin pengering dan penggilingan dalam jumlah memadai. Bulog memang memiliki Unit Pengelolaan Gabah Beras (UPGB), tapi tidak banyak.

"Misalkan saja untuk kabupaten Indramayu, dari areal tanam seluas 120.000 hektare hanya tersedia dua alat pengering kecil. Maka itu sulit untuk Perum Bulog merealisasikan target serapan pada tahun ini," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengakui bahwa serapan perusahaannya masih di bawah 10 ribu ton per hari. Namun ia optimistis daerah di luar Jawa masih dapat menopang serapan gabah setara beras yang dicanangkan pemerintah.

“Semoga bisa mencapai 2,2 juta ton (pada Agustus ini), kan Sulawesi Selatan masih panen seperti di Sidrap dan Pare-pare. Di Jawa kekeringan tapi masih ada yang panen seperti di Jember dan Banyuwangi,” katanya.

Stok beras yang dimiliki Bulog saat ini sebanyak 2,2 juta ton dengan, termasuk di antaranya Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 1,6 juta ton.

kumparan