Kelangsungan Pertanian Karet Indonesia dalam Ancaman Besar

Ekonomi | DiLihat : 380 | Rabu, 01 Agustus 2018 | 10:04
Kelangsungan Pertanian Karet Indonesia dalam Ancaman Besar

PALEMBANG – Penyakit gugur daun (Fusicoccum) mendera puluhan ribu hektare lahan karet di tujuh provinsi sehingga menjadi ancaman luar biasa bagi kelangsungan pertanian karet Indonesia.

Direktur Pusat Penelitian Karet Bogor Gede Wibawa mengatakan jika kondisi buruk itu tidak diatasi dengan cepat, bisa jadi Indonesia akan mengalami seperti Brasil yang hingga kini tidak bisa lagi menanam karet karena terkena penyakit "gugur daun Amerika Selatan" pada 1998."Sampai saat ini Brasil tidak bisa menanam karet lagi. Bayangkan dahsyatnya penyakit ini bagi tanaman karet," kata Gede Wibawa di sela-sela pertemuan 14 negara produsen karet terkait dengan upaya mencari solusi mengatasi penyakit gugur daun ini di Palembang, Sumatra Selatan, pada Selasa (31/7/2018).

Gede menceritakan bahwa penyakit gugur daun ini terdeteksi pertama kali di perkebunan karet di Sumatra Utara pada 2016 yang diperkirakan akibat adanya pembelian bibit. Penyakit ini kemudian cepat menyebar ke kantong-kantong perkebunan karet terutama di Sumatra.

Akibatnya, pada 2018, Gede memastikan bahwa penyakit gugur daun ini sudah tersebar di perkebunan enam provinsi lainnya, yakni Sumsel, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.Menurut dia, faktor iklim dan lemahnya daya tahan tanaman karet Indonesia menjadi salah satu penyebabnya.

Hal ini cukup dimaklumi karena pada 2016 petani masih dihadapkan persoalan rendahnya harga getah sehingga tidak melakukan pemupukan secara optimal. Selain itu, pada 2015 terjadi kejadian kebakaran hutan dan lahan yang cukup hebat sehingga memengaruhi proses fotosintesis tanaman.

"Gugur daun ini disebabkan sejenis cendawan yang menghasilkan racun. Penyebarannya melalui udara, sehingga ketika menyerang satu daun, maka akan menyerang daun lainnya, dan ujung-ujungnya satu hamparan," kata Gede.

Lahan milik Pusat Penelitian Karet di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, pun tidak luput dari serangan penyakit gugur daun ini yakni menyerang lahan produktif seluas 905 hektare dari total 1.500 hektare lahan yang tersedia.

Tim peneliti tengah mendata luasan lahan yang terpapar karena sejauh ini baru menerima data dari perusahan-perusahaan perkebunan.

"Data kasar yang kami miliki dari laporan dari perusahan-perusahaan perkebunan per Februari 2018 di tujuh provinsi, diketahui penyakit gugur daun sudah menyerang 22.000 hektare. Saya pastikan lebih banyak lagi, karena perkebunan rakyat juga sudah terkena," ucap Gede.

Akibat dari penyakit tanaman ini, produksi getah karet Indonesia dipastikan turun 40% hingga 50% tahun ini.

Sebagai gambaran, lahan seluas 905 hektare di Sembawa, Banyuasin, hanya menghasilkan 90 ton setiap panen dari seharusnya 180 ton, padahal pada Juli-Agustus ini menjadi puncak panen getah karena memasuki puncak musim kemarau, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Sejauh ini, para peneliti telah menemukan solusi untuk mengatasi persoalan ini yakni dengan menyemprotkan cairan pembasmi dengan cara fogging. Melalui cara ini, tanaman akan terpulihkan kembali dalam masa 3 bulan.

Namun, solusi ini juga dalam dilema karena harga karet sedang jatuh yakni Rp7.000 per kilogram sehingga semakin memberatkan petani.

Untuk 1 hektare lahan diperlukan biaya Rp180.000 untuk satu kali fogging menggunakan cairan hexagonal, sementaranya idealnya untuk pemulihan diperlukan tiga kali fogging.

"Nanti daunnya tumbuh lagi. Meski difogging, tetap saja masih dalam ancaman, seperti yang dialami Malaysia saat ini. Namun, yang terpenting bagi kami peneliti di seluruh dunia yakni bagaimana caranya bisa melahirkan jenis klon (bibit) yang unggul dari penyakit daun," kata Gede.

Puluhan Ribu Hektare

Peneliti di Pusat Penelitian Karet Sembawa, Tri Rapani Febbiyanti, berpandangan penyebaran penyakit gugur daun di perkebunan karet di Indonesia sangat mengkhawatirkan karena terjadi secara outbreak atau menjangkit hingga puluhan ribu hektare. Kondisi ini berbeda dengan Malaysia yang juga sempat terkena tapi tidak dalam satu hamparan luas.

"Itulah kami mengumpulkan negara-negara produsen karet untuk mengatasi masalah ini. Kami ingin tahu bagaimana Malaysia mengatasinya, karena mereka bisa tidak outbreak, meski saat ini masih berstatus ancaman. Kami juga ingin mendengar solusi dari dokter asal Pantai Gading yang menemukan pertama kali penyakit ini," ungkap Tri.

Puluhan ilmuwan dari 14 negara berkumpul di Palembang pada 31 Juli-1 Agustus 2018 dalam kegiatan International Plant Protection Workshop, di antaranya dari China, Jepang, Brasil, Pantai Gading, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Pertemuan yang diselenggarakan Pusat Penelitian Karet Indonesia dan International Rubber Development Board (IRRDB) berharap menemukan melahirkan solusi efektif atas persoalan ini. Hal ini mengingat klon karet yang tahan terhadap penyakit gugur daun RRIC 100 ternyata juga tidak tahan.

bisnis


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau