SPI Tangkarkan Benih Padi Varietas Baru

Inovasi Desa | DiLihat : 85 | Jumat, 13 Juli 2018 | 10:55
SPI Tangkarkan Benih Padi Varietas Baru

JAKARTA - Serikat Petani Indonesia (SPI) berhasil menangkarkan varietas benih padi baru bernama SPI 20 yang hanya bisa didapatkan di Koperasi Petani Indonesia.

Adalah Kusnan Petani SPI asal Tuban, Jawa Timur yang berhasil menangkarkan benih varietas baru tersebut. Kusnan menjelaskan benih padi unggul SPI 20 adalah padi silangan dari padi pendok dan padi IR 64. SPI 20, katanya, sudah bisa dipanen dalam kurun waktu 75 hari setelah penanaman.

Kusnan mengatakan bahwa pada saat uji coba, SPI 20 dapat menghasilkan padi antara 6 ton-8 ton per hektar. Namun hal tersebut tergantung pada masing-masing daerah penanaman. Kusman optimistis berdasarkan ujicoba di beberapa daerah, ada kenaikan signifikan dalam setiap panennya.

“[Kelebihan] Benih padi unggul SPI 20 tahan terhadap serangan wereng batang coklat, dan tidak disukai tikus, juga tahan terhadap hawar daun bakteri seperti kresek, xanthomonas, dan blas. Padi ini juga tahan kekeringan, dan sangat cocok ditanam di sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Nasinya wangi pulen,” katanya pada Kamis (12/7/2018).

Kusnan mengatakan untuk jalur pendistribusian benih padi SPI 20 hanya bisa didapatkan di Koperasi Petani Indonesia. “Koperasi adalah bentuk ideal untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi kaum tani, yang memutus mata rantai distribusi yang selama ini dikuasai tengkulak," katanya.

Ketua Umum SPI Henry Saragih menyampaikan, benih padi SPI 20 adalah salah satu bentuk keberhasilan petani-petani SPI dalam usahanya menegakkan kedaulatan benih untuk kedaulatan pangan.

“Kehadiran benih SPI 20 ini, yang ditangkarkan dan digagas oleh petani SPI merupakan salah satu contoh capaian yang sudah dicapai organisasi ini,” katanya.

Henry melanjutkan, melalui praktek-praktek perbenihan dan produksi pertanian secara agroekologis dan koperasi, SPI berusaha mewujudkan keadilan agraria dan kesejahteraan petani serta berperan aktif untuk mengusulkan dan mendorong kebijakan-kebijakan pemerintah dalam mengimplementasikan distribusi lahan dan kedaulatan pangan.

“Bagi SPI, kemandirian ekonomi petani tersebut hanya bisa dicapai dengan menerapkan konsep reforma agraria dan kedaulatan pangan, diantaranya melalui penguasaan masyarakat tani atas tanah dan benih sendiri sebagai alat produksi mereka, proses produksi secara agroekologis dan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi kolektif petani", katanya.

Nurhadi Zaini, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Jawa Timur mengatakan dengan melaksanakan sistem produksi pangan berbasis agroekologi sebagai suatu sistem pertanian yang menyeluruh dan mempertimbangkan aspek lingkungan, kesehatan, sosial dan ekonomi masyarakat pertanian.

“Sistem pertanian ini tidak menggunakan benih produksi korporasi, pupuk dan obat-obatan kimia, tetapi menggunakan benih petani, pupuk dan obat-obatan alami, pengetahuan tradisional yang ada di sekitar tanah pertanian dan adat petani,” tuturnya.

Nurhadi Zaini melanjutkan, dengan agroekologi keluarga petani akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi dan sosial, alam menjadi lestari, lingkungan terjaga dan juga menghentikan ketergantungan petani terhadap produk korporasi.

bisnis