Kementan Jembatani Petani Jeruk untuk Ekspor

Inovasi Desa | DiLihat : 220 | Senin, 09 Juli 2018 | 11:59
Kementan Jembatani Petani Jeruk untuk Ekspor

                   Dengan teknologi Bujangseta, petani jeruk bisa melakukan panen tiga bulan sekali.
REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kementerian Pertanian (Kementan) akan menjadi pusat peningkatan kemampuan para petani di Jawa Timur. Kesepakatan tersebut dilakukan saat kunjungan Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro, beberapa waktu lalu.

“Balitjestro akan menjadi tempat budi daya, pengemasan, pengolahan, sekaligus tempat pertemuan dengan perbankan dan pemasar. Balitjestrolah tempat para petani dapat mengembangkan produknya,” ujar Syukur dalam rilis yang diterima Republika.co.id.Menurut Syukur, Kementan akan menjembatani para petani jeruk atau gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk bekerja sama dengan pengusaha guna pemasaran hasil produksi jeruk. Mediasi kerja sama juga dilakukan dengan perbankan untuk kepentingan ekspor ke negara lain.

“Alhamdulillah, kini sudah ada kesepakatan kerja sama petani jeruk atau gapoktan dengan pihak pengusaha dan perbankan,” kata Syukur.

Kementan, Syukur melanjutkan, juga sudah menyiapkan bibit buah jeruk 1 juta pohon di Balitjestro Malang untuk ditanam di Jawa Timur dan sekitarnya. Penyiapan bibit itu sekaligus untuk pengembangan buah jeruk ke beberapa daerah lainnya di Indonesia.

“Intinya, dengan adanya pengembangan buah jeruk oleh Kementan di Balitjestro Malang, produksi jeruk di Indonesia diupayakan terus meningkat dengan kualitas ekspor yang tidak kalah dengan jeruk negara lain,” ujar Syukur.

Mengenai pengembangan jeruk, peneliti utama di Balitjestro Arry Supriyanto menyatakan, dengan menggunakan Teknologi Pembuahan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun (Bujangseta), tanaman jeruk bisa dipanen lebih cepat. Jika biasanya panen jeruk hanya dua kali dalam satu tahun, maka dengan teknologi itu petani bisa melakukan panen tiga bulan sekali.

“Jadi, dalam satu tahun bisa lima kali panen. Artinya, setiap dua atau tiga bulan bisa panen, sehingga ketersediaan buah sepanjang tahun tetap terjaga,” kata Arry.

Dia melanjutkan, teknologi Bujangseta merupakan solusi yang ditunggu-tunggu oleh petani karena dengan teknologi tersebut petani dapat panen sepanjang tahun.

republika


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau