Genjot Hasil Pertanian, Petani Berburu Benih Unggulan

Ekonomi | DiLihat : 132 | Senin, 09 Juli 2018 | 11:39
Genjot Hasil Pertanian, Petani Berburu Benih Unggulan

Jakarta - Sejumlah petani di sejumlah daerah mengaku kesulitan mendapatkan benih padi tipe hibrida. Padahal faktor benih menjai salah satu faktor penting untuk produktifitas.

Hasil panen dapat jauh lebih bagus dan jumlahnya tinggi jika petani mampu memahami unsur-unsur yang diperlukan, tidak hanya sebatas pupuk.

"Meskipun kegiatan usaha tani telah dilakukan turun temurun kenyataannya tidak banyak petani memahami unsur-unsur yang diperlukan agar tanaman menjadi sehat," kata Ketua Gapoktan Multi Sejahtera Mamplam Kandang Aceh Utara, Affitulah, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu 8 Juli 2018.

Ia mengatakan masalah peningkatan produksi tidak melulu urusan pupuk. Sementara saat ini petani kesulitan soal benih."Petani di daerah kami sudah terbiasa menanam padi hibrida, baik itu arize maupun padi pioneer. Harga per satuan kilogramnya lebih mahal, tapi malah lebih untung karena petani mendapatkan panen 1-2 ton lebih banyak per hektare," jelas Affitullah.

Masalahnya, benih itu sudah lama hilang di pasaran. Ini yang disayangkan. "Sekarang kami kembali menggunakan benih padi inbrida cigenun, setelah menggunakan Inpari 13, malah seluruh petani gagal panen," katanya.

Sementara itu, petani Nganjuk penemu perangkat penjebak hama `Light Trap Insect', Susanto, mengatakan untuk mendapatkan hasil panen yang jauh lebih banyak, disarankan menyehatkan dahulu lahannya. Setelah itu pilih benih padi berkualitas yang diinginkan, baik inbrida maupun hibrida.

Percobaan hanya dengan memberikan prochipsoil, zink sulfat (ZnS04) dan kapur gamping, petani dapat hasil 1-2 ton per hektare lebih banyak, katanya.

Menurut Susanto yang juga Ketua P4S Joglo Nganjuk, masalah hasil panen faktor kualitas benih menjadi pertimbangan utama petani. Petani saat ini sudah terbiasa membeli benih padi berlabel, tidak lagi membenih sendiri.

"Padi hibrida itu memang jenis padi yang mampu menaikkan hasil panen petani, tapi perlu pengawalan ekstra ketat dan boros pupuk. Dalam satu hektare mampu hasilkan rerata 8,5 ton, " katanya.

Hanya, benih lokal berlabel pun sesungguhnya tak kalah, seperti Ciherang, Situ Bagendit, Sidenok, ataupun IPB3S. Meskipun kemampuan maksimalnya hanya mencapai 6,5 ton/hektare.

Sementara itu Ketut Ladra, petani Dusun Sumbersari, Desa Perung Lunyuk, Sumbawa mengatakan bahwa petani di daerahnya lebih sering menggunakan benih lokal berlabel, seperti Ciherang dan Tukat Berlian.

"Ada beberapa desa yang biasa menanam hibrida. Namun, akhir-akhir ini mereka terkendala pasokan benih yang kadangkala hilang dari pasaran" katanya.

liputan6