Petani Nanas Keluhkan Pasarkan Hasil Panen

Ekonomi | DiLihat : 234 | Jumat, 29 Juni 2018 | 10:47
Petani Nanas Keluhkan Pasarkan Hasil Panen

Desa Merbau Kecamatan Mendahara, saat ini tengah menggalakkan budidaya nanas. Namun sayangnya, ketika panen tiba, petani setempat kesulitan untuk memasarkan hasil panennya tersebut. Terlebih hasil panen nanas di Desa Merbau mencapai ribuan buah per panen, sehingga hasil panen tersebut harus mencari pasar di luar kecamatan atau kabupaten.

Ketua Kelompok Tani M Rohim, saat Bupati Tanjabtim beserta rombongan menggelar halal bihalal di Kecamatan Mendahara belum lama ini. “Kami selalu petani nanas, berharap pemerintah membantu pemasaran hasil panen kami. Karena ketika panen tiba, kami kesulitan memasarkan sehingga petani nanas selalu khawatir mengalami kerugian,” kata Rohim, dihadapan Bupati beserta rombongan.

Permasalahan pemasaran sendiri jelas Rohim, sebenarnya berpangkal pada persoalan transportasi. Lokasi lahan pertanian yang harus melalui dua sungai premier dan tidak adanya jembatan, membuat para petani kesulitan mengeluarkan hasil panen mereka. “Apalagi kalau musim hujan, sebagian besar nanas membusuk sebelum petani mengangkut keluar,” keluhnya.

Terlepas dari persolan tersebut, Rohim mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Tanjabtim yang telah memberikan bantuan pertanian nanas seluas 32 hektare baik berupa bibit maupun peralatan. “Sebagian nanas kita coba olah menjadi dodol nanas, namun belum bisa skala besar. Kita khawatir nanas kita membusuk,” terang Rohim.

Menanggapi keluhan Bupati Tanjabtim Romi Hariyanto mengatakan, para petani nanas hendaknya lebih inovatif lagi dalam mengolah nanas menjadi berbagai produk makanan jadi. sehingga produk makanan dari bahan nanas tersebut, lebih mudah dipasarkan baik soal transportasi maupun dari segi keawetan makanan itu sendiri. “Jika sudah diolah menjadi berbagai makanan, banyak sekali keuntungannnya, nilai jual lebih tinggi, makanan lebih tahan lama, dan akomodasinya lebih ringan ketimbang mengangkut ribuan nanas yang belum diolah,” jelas Bupati.

Untuk produksi nanas di Kabupaten Tanjabtim sendiri lanjut Bupati, hasil produksi nanas lokal telah mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Tanjabtim. Sehingga pasar lokal tentunya tidak jauh lagi mencari nanas dari luar Kabupaten Tanjabtim. “Untuk dodol nanas rasanya enak, dan saya rasa dapat bersaing di pasaran,” ucapnya.

Sementara untuk infratruktur seperti belum adanya jembatan penyebarangan di dua sungai premier. Bupati menyarakan agar beberapa kepala desa di sekitar dua sungai tersebur berembuk, untuk menentukan pembangunan dua jembatan tersebut sebagai skala prioritas. “Ini mengingat terbatas anggaran kita, namun jika pembangunan jembatan itu telah disepakati sebagai skala prioritas, maka jembatan tersebut tentunya dapat segera dibangun,”katanya.(ami/muz)

 


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau