Peternak Jangkrik Butuh Bapak Angkat

Ekonomi | DiLihat : 170 | Selasa, 26 Juni 2018 | 11:17
Peternak Jangkrik Butuh Bapak Angkat

KEGIATAN usaha atau bisnis beternak jangkrik di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat semakin lama semakin tumbuh dan berkembang hingga ke berbagai pelosok kampung. Hal itu seiring makin banyaknya permintaan produk jangkrik dari para pehobi atau pemelihara burung berkicau, ikan arwana, ayam pelung, kura-kura dan untuk umpan kail mancing.

Sudah banyak warga di daerah ini menggeluti usaha beternak jangkrik. Salah satunya Sutikno, 59 warga Blok Kebon Pring, Desa Cidempet, Kecamatan Arahan, Indramayu, Jawa Barat. Sudah 4 tahun terakhir ini malang melintang menggeluti usaha beternak jangkrik. Dari sekian banyak peternak jangkrik di Kota Mangga ini umumnya membutuhkan bapak angkat di kota-kota seperti Jakarta guna menampung sekaligus membeli hasil produksi jangkrik dari para peternak di Indramayu. Dengan begitu mereka akan termotivasi mengembangkan usahanya.

Kegiatan beternak jangkrik menurut Sutikno pemeliharaanya cukup mudah, sehingga dapat disambi dengan melakukan pekerjaan lain. Beternak jangkrik juga modalnya cukup terjangkau. Namun hasilnya jika harga jual jangkrik sedang berada di puncak cukup lumayan

Diakui, pengeluaran modal beternak jangkrik yang paling besar itu ketika digunakan untuk pembuatan kandang jangkrik, seperti membeli; kayu, triplek, paku, terpal dan sebagainya ditambah pembelian voer (pur) atau pakan jangkrik. Kandang bisa digunakan selama 3 tahun. Setelah itu, kualitasnya menurun sehingga kandang perlu peremajaan.

TERGANTUNG KANDANG

Menurut Sutikno, besar kecilnya modal beternak jangkrik tergantung dari jumlah kandang atau kotak. “Kalau hanya membuat 4 kandang saja modalnya sekitar Rp3 jutaan dan perlu lahan tanah panjang 10 Meter lebar 5 Meter,” katanya.

Jangka waktu pemeliharaan jangkrik dari telur menetas hingga siap jual sekitar 30 hari. Beternak jangkrik dimulai dari pengadaan bibit, dipilih ketika jangkrik belum bersayap. Selang seminggu, bibit jangkrik yang belum bersayap itu mulai kelihatan bertelur di media hamparan pasir. Telur dipisahkan dari pasir untuk ditetaskan menjadi anakan.

Usia 1 hari hingga 10 hari anakan jangkrik diberi pur. Memasuki usia 11 hari, kondisi anakan jangkrik sudah kelihatan membesar, sehingga mulai banyak membutuhkan pur. Karena itu, pur diganti dengan pakan buatan sendiri dari campuran; dedak, bekatul dan nasi aking untuk efisien. Pemberian pakan buatan sendiri itu dilakukan hingga usia panen 30 hari saat jangkrik belum bersayap.

Harga jual jangkrik kata Sutikno bervariasi. Tergantung harga pasar. Harga terendah Rp25 ribu per Kg dan tertinggi Rp120 ribu per Kg. “Harga tertinggi biasanya terjadi saat musim kemarau yang menyengat. Posisi harga jual jangkrik sekarang Rp60 ribu per Kg,” ujarnya seraya menambahkan jumlah produksi per kandang tidak sama. Antara 8 Kg hingga 14 Kg. Tergantung kualitas masa pertumbuhan.

“Bagi saya harga jual produk jangkrik di pasar berapapun tidak bakal mundur dari usaha beternak jangkrik ini. Bagi saya beternak jangkrik itu hobi,” ujarnya.

Sebenarnya kata Sutikno, masyarakat sekitar juga tertarik beternak jangkrik. Namun ada kendala untuk peternak pemula yaitu soal pemasaran. Karena itu para peternak jangkrik pada umumnya butuh Bapak Angkat, penampung dan pembeli hasil produksi. “Kalau bagi saya yang sudah 4 tahun beternak jangkrik tidak ada masalah di pemasaran. Jangkrik dijual kemana saja diterima,” ujarnya.

Menyinggung soal jumlah produk jangkrik kata Sutikno, jika tidak ada gangguan, jangkrik dipanen tiap 4 hari sekitar 20 Kg. “Jumlah itu belum termasuk dari teman-teman,” ujarnya. Gangguan beternak jangkrik itu biasanya ada dua macam yaitu udara yang sangat panas yang membuat telur jangkrik tak dapat menetas dan hama semut, cikcak, kadal, iguana, tikus dan ayam,” katanya. (taryani/bu)

poskotanews


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau