Kementan Bangun Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Perbatasan

Ekonomi | DiLihat : 217 | Selasa, 05 Juni 2018 | 10:36
Kementan Bangun Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Perbatasan

JAKARTA - Kementerian Pertanian membuat program khusus yaitu Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan (LPBE-WP).

LPBE-WP merupakan strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah dan antar masyarakat di wilayah perbatasan.Pengembangan LPBE-WP diarahkan kepada peningkatan kapasitas produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah perbatasan dan kelebihannya untuk diekspor utamanya ke Negara tetangga guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berkembangnya ekonomi wilayah perbatasan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan, Muhammad Syakir mengatakan secara khusus telah membangun percontohan sistem produksi komoditas pangan skala luas yang sekaligus melaksanakan pendampingan dan pengawalan budidaya komoditas strategis yang dapat menjadi poros untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Dia mengklaim upaya tersebut telah membuahkan hasil nyata dengan rintisan ekspor ke beberapa negara tetangga seperti ekspor beras ke Papua Nugini dari Kabupaten Merauke. Selanjutnya ekspor bawang merah ke Republik Timor Leste dari Kabupaten Malaka, NTT dan ekspor beras dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ke Malaysia pada.

“Untuk itu Komitmen kami dalam mengangkat nasib petani di 5 provinsi perbatasan menjadi amanah yang harus terus diwujudkan keberlanjutannya ke depan,” harap Syakir.

Syakir mengatakan perlunya dukungan kebijakan dan sinergisme dengan Kementerian dan Lembaga lainnya, serta dukungan dan partisipasi pihak swasta dalam rangka mendorong investasi di bidang produksi dan perdagangan temasuk ekspor hasil pertanian.

Pemberian berbagai insentif pada investor termasuk deregulasi perijinan dan penyederhanaan layanan, perbaikan tata niaga serta pengembangan infrastruktur pendukung dan fasilitasi ekspor menjadi agenda penting yang tak dapat dipisahkan dari rangkaian pengembangan LPBE-WP.

“Hal ini perlu terus dijaga bersama-sama dengan pengawalan inovasi teknologi, agar kesejahteraan petani di perbatasan dapat terus meningkat,” pungkas

Syakir menjelaskan sasaran utamanya adalah meningkatnya produksi, mutu, dan daya saing produk komoditas pangan dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya alam di wilayah perbatasan.

Pengembangan LPBE-WP dirancang berbasis kawasan dengan konsep pertanian modern yang didukung oleh inovasi teknologi dan kelembagaan sarana-prasarana produksi, permodalan, serta pengolahan dan pemasaran hasil pertanian melalui pemberdayaan kelompok tani dan kemitraan dengan swasta.

Lima provinsi yang disasar sebagai Lokasi prioritas LPBE-WP adalah Provinsi kalimantan Barat, di kabupaten Sambas, Sintang, Sanggau, Bengkayang dan Kapuas Hulu.

Kedua, Provinsi Kepulauan Riau, di Kabupaten Lingga, Karimun dan Natuna. Ketiga, Provinsi Kalimantan Utara di Kabupaten Nunukan. Keempat, Provinsi Papua di Merauke. Kelima, Provinsi Nusa Tenggara Timur di Malaka dan Belu.

Sementara komoditas prioritas yang dikembangkan antara lain padi -semua provinsi kecuali NTT-, lalu jagung untuk Kalbar, Papua dan NTT.

Bawang merah menjadi target pengembangan untuk perbatasan Kaltara dan NTT. Khusus sayuran pengembangannya diarahkan untuk mengejar target ekspor ke Singapura dan Malaysia menjadi prioritas Kepri dan Kalbar.

Faktor penunjang untuk implementasi program yang telah berjalan meliputi pencetakan sawah dan optimalisasi pemanfaatan lahan, pembenahan jaringan tata air mikro,

Upaya Khusus (Upsus), bantuan alsintan, benih dan sarana produksi lainnya, pelatihan SDM aparat, petani dan kelembagaannya, serta dukungan dan pendampingan penerapan inovasi teknologi pertanian.

bisnis


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau