Tingkatkan Indeks Pertanaman, Balitbangtan Kenalkan Teknologi Embung di Kalteng

Inovasi Desa | DiLihat : 219 | Jumat, 25 Mei 2018 | 11:45
Tingkatkan Indeks Pertanaman, Balitbangtan Kenalkan Teknologi Embung di Kalteng

Jakarta— Kementerian Pertanian RI, melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah mengembangakan strategi teknologi bangunan air dan embung, untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian, terutama di lahan tadah hujan. 

Pembangunan embung serta bangunan air seperti long storage, dam parit dan sejenisnya, diprioritaskan di desa untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari satu kali menjadi dua atau sampai tiga kali. Pemerintah menargetkan sebanyak 30 ribu embung akan dibangun secara bertahap melalui kerja sama dengan tiga Kementerian, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes) dan Kementerian Pertanian (Kementan).

"Pelaksanaan program embung ini juga telah berjalan di wilayah kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah yang sebagian besar wilayah pertaniannya merupakan lahan sawah tadah hujan," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Katingan, Hendri Nuhan, saat memberikan pengarahan dihadapan peserta Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) Padi di Katingan, baru-baru ini.

Hendri mengatakan, program penyediaan embung ini bertujuan agar petani mampu melakukan aktivitas usaha tani sepanjang musim baik tanaman pangan, hortikultura dan peternakan, tanpa terkendala lagi dengan ketersediaan air.

Hal ini, katanya, sangat membantu proses pencapaian ketersediaan pangan sepanjang musim, karena ini berkaitan dengan Indek Pertanaman (IP), meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi angka pengangguran.

Kepala Bidang Program BBSDLP menyatakan, teknologi embung itu merupakan water storage atau penampung pada musim hujan dan air limpasan di lahan sawah tadah hujan yang berdrainase baik. Kegunaan dari embung itu sendiri adalah menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, meningkatkan produktivitas lahan, intensitas tanam, pendapatan petani di lahan tadah hujan, mencegah / mengurangi luapan air di musim hujan dan menekan resiko banjir. 

Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan teknologi Patbo Super untuk mendukung mendukung peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300 di sawah tadah hujan. Patbo merupakan singkatan dari Padi Aerob Terkendali dengan Penggunaan Bahan Organik. 

Patbo Super merupakan paket teknologi budidaya padi spesifik lahan tadah hujan dengan basis manajemen air dan penggunaan bahan organik untuk menghasilkan produktivitas tinggi serta potensi peningkatan IP. 

Komponen Patbo Super di antaranya, penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) padi ampibi ada 14 varietas, diantaranya Situbagendit, Inpari 38 dan Inpari 39, manajemen air dengan memanfaatkan potensi sumberdaya air yang tersedia seperti sungai, embung, dan-lain-lain untuk seefisien mungkin untuk meningkatkan IP.

Kemudian, penggunaan bahan organik in situ yaitu jerami padi dengan menggunakan dekomposer dan penggunaan pupuk hayati, penggunaan alsintan untuk pengolahan tanah, tanam, pemeliharaan dan panen.
Termasuk pengendalian gulma dengan menggunakan herbsida pra tumbuh yang selektif dan menggunakan alsintan penyiangan power weeder.

Hingga tahun 2017, jumlah embung yang telah dibangun oleh Kementerian PUPR sebanyak 50 unit, Kemendes 90 unit dan  Kementan sebanyak 5.500 unit embung. Pada tahun 2018 Kemendes akan membangun 150 unit embung  dengan potensi sebanyak 30.000 unit yang akan dibangun dengan dana desa. 

Peran embung dan bangunan air lainnya utuk irigasi pertanian sangat jelas untuk peningkatan IP dan peningkatan produksi pangan.Namun, pemanfaatan dan pemeliharaan embung ini harus tetap dilakukan agar berkelanjutan.

 
Sumber: Dedy Irwandi