Sektor pertanian kekurangan tenaga kerja muda

Ekonomi | DiLihat : 167 | Selasa, 22 Mei 2018 | 11:14
Sektor pertanian kekurangan tenaga kerja muda

JAKARTA. Sektor pertanian menjadi sektor yang paling disorot mengenai ketidakcocokan antara pendidikan dan pekerjaan. Pasalnya rendahnya minat tenaga kerja baru yang ingin bekerja di sektor pertanian. 

Ketidakcocokan antara pendidikan dan pekerjaan (Mismatch) baik Vertikal Mismatch maupun Horizontal Mismatch di sektor pertanian cukup tinggi jika dibandingakan sektor manufaktur dan jasa. Di sektor pertanian memiliki Vertical Mismatch hingga mencapai 96,86 %.

Terdiri dari di bawah kualifikasi pendidikan 0,12%, sesuai kualifikasi pendidikan 3,04%, di atas kualifikasi pendidikan, 96,74%.  Sedangkan Horizontal Mismatch bidang studi yang dibutuhkan untuk bekerja berbeda dengan latar belakang pendidikan pekerjaan, 58,63 %.

Pekerjaan dapat diisi oleh pendidikan bidang studi apa pun 25,62%, bidang pekerjaan yang dibutuhkan sama dengan latar belakang pendidikan pekerjaan 15,75%, sehingga total Horizontal Mismatch-nya hingga 84,25%.

Wakil Ketua Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede menjelaskan tingginya mismatch yang terjadi di sektor pertanian disebabkan oleh rendahnya minat tenaga baru ingin bekerja di sektor pertanian.

Para tenaga baru beranggapan tingkat pendapatan yang diperoleh dari sektor pertanian relative kecil sehingga mereka memilih bekerja di sektor lain. Tenaga kerja muda lulusan bidang pertanian tidak lagi tertarik bekerja di sektor pertanian lagi.

“Ketika tenaga kerja muda tadi semakin terdidik, kini mereka sudah tidak tertarik dengan sektor pertanian malah memilih bekerja di sektor lain. Inilah yang menyebabkan mismatch,” ungkap I Dewa. 

Ia menambahkan bahwa status pendidikan di sektor pertanian saat ini diisi oleh pekerja yang berumur tua dan capain pendidikannya masih rendah. Orang-orang yang bekerja di sektor pertanian itu umurnya secara rata-rata relative lebih tua jika di bandingan dengan sektor lain.

“Data kita menunjukkan pada tahun 2015 yang kita analisis itu rata-rata umur petani di Indonesia, terutama di sektor pertanian sebagai petani itu 60 tahun. Itu yang membuat mismatch,” jelasnya.

kontan