Inspiratif, Santri Cilacap Kembangkan Air Liur Jadi Pupuk Organik

Inovasi Desa | DiLihat : 241 | Selasa, 08 Mei 2018 | 10:30
Inspiratif, Santri Cilacap Kembangkan Air Liur Jadi Pupuk Organik

 Cilacap - Air liur kerap diasosiasikan dengan jorok dan menjijikkan. Namun, tidak dengan santri-santri di Pesantren Rubat Mbalong Ell Firdaus, Kadungreja Cilacap. Mereka mengubah air liur menjadi pupuk organik yang berdaya guna.

Pemanfaatan air liur sebagai pupuk organik ini rupanya sejalan dengan visi pesantren mengembangkan pertanian terpadu. Air liur yang diubah menjadi pupuk organik itu dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan padat agar tanaman santri semakin subur.

Tiap menjelang fajar, sebelum memulai aktivitasnya, sekitar 250 santri, baik laki-laki maupun perempuan mengantre untuk berkumur. Tiap santri hanya diperbolehkan berkumur dua kali.Air kumuran dari air liur pertama dan kedua setelah bangun tidur itu diyakini mengandung banyak bakteri pengurai. Lantas, santri mengumpulkannya di jeriken-jeriken khusus. Tiap pagi, setidaknya terkumpul sekitar 10 liter kumuran air liur santri.

Air liur itu kemudian diproses menjadi Mikro Organisme Lokal (MOL) dengan cara mencampurnya dengan air beras (leri) dan gula atau air tebu. Setelah diperam selama sepekan, MOL air liur itu bisa digunakan sebagai starter atau pemicu percepatan berbagai pupuk organik dan insektisida alami.

Dari starter pupuk air liur, santri mencampurnya dengan bahan alami lainnya, seperti buah maja atau kemplung, kulit pisang, daun sirisida, daging keong yang dicacah, rebung, dan lain sebagainya.

Manfaatnya bermacam-macam. Misalnya, starter pupuk air liur yang dicampur dengan buah maja akan menghasilkan pupuk lengkap, N, P dan K organik. Pupuk air liur yang mengandung bakteri Saccharomyces, Cellulomonas, Lactobacillus, dan Rhizobium itu membuat pupuk cair dan padat lebih cepat bisa digunakan.Aplikasi pada tanaman, 0,5 liter MOL maja cair dicampur dengan 14 liter air bersih. Lantas pupuk cair itu disemprotkan ke tanaman pagi-pagi benar, ketika matahari belum terik.

Tanaman pun memperoleh nutrisi yang diperlukan. Hasilnya, tanaman akan berkembang lebih pesat, subur, dan berbuah lebat. Hasil panennya dikonsumsi oleh ratusan santri sebagai menu makanan sehari-hari.

Pengasuh Pondok Pesantren Rubat Mbalong Ell Firdaus, KH Ahmad Hasan Mas’ud atau akrab disapa Gus Hasan berkisah, sebenarnya pupuk air liur itu bukan lah ciptaan pesantren Rubat Mbalong. Sang penemu, adalah KH Fuad Affandi, pengasuh pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung.

Penemuan Fuad ini diberi nama MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami). MFA berkhasiat mempercepat ketersediaan nutrisi tanaman, mengikat pupuk dan unsur hara, serta mencegah erosi tanah.

Oleh santri Rubat Mbalong, penemuan itu dikembangkan menjadi berbagai pupuk cair dengan kegunaan yang bermacam-macam. Ada yang berguna untuk asupan nutrisi nitrogen, fosfor, kalium, zat besi, kalsium. Nutrisi itu diperoleh dari campuran masing-masing bahan.

Dari air liur itu pula, santri mengembangkannya menjadi pestisida organik atau nabati. Pupuk tersebut dicampur urine kelinci, kambing, dan sapi.

Salah satu yang cukup membanggakan adalah ketika salah satu santri Rubat Mbalong, Ahmad Mustolih, mencampurkan starter air liur dengan kulit pisang. Mustolih prihatin, di sekitar pesantren banyak industri pisang sale yang menyebabkan kulit pisang menjadi limbah tak berguna.

Namun, di tangan santri ini, kulit pisang diubah menjadi pupuk cair dan padat yang bermanfaat untuk tanaman. Dari inovasinya itu, Ponpes Rubat Mbalong Ell Firdaus meraih juara kedua inovasi teknologi tepat guna di Kabupaten Cilacap.

"Keberhasilan santri mengubah kulit pisang menjadi pupuk cair dan padat diapresiasi. Alhamdulillah," ucapnya.

liputan6


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau