Warna gelap jadi nilai lebih eboni sebagai bahan furnitur

Peluang Usaha | DiLihat : 111 | Senin, 07 Mei 2018 | 11:32
Warna gelap jadi nilai lebih eboni sebagai bahan furnitur

Sejak lama Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil tanaman kayu dengan kualitas terbaik di dunia. Bahkan beberapa jenis pohon dikenal sebagai penghasil kayu yang digunakan khusus untuk bahan baku furnitur mewah dan eksklusif. Pohon yang kerap dijadikan sumber penghasil kayu adalah pohon jati.

Namun, sebenarnya masih ada beberapa jenis pohon penghasil kayu eksklusif lainnya. Salah satunya adalah pohon eboni. Flora asli pulau Sulawesi ini ternyata juga tengah dicari di kalangan pelaku usaha furnitur. Warna kayunya yang cenderung gelap menjadi salah satu keunggulan kayu eboni.

"Bibit eboni lumayan banyak yang cari, kebanyakan yang cari itu borongan. Jadi sekali ambil langsung banyak. Setahun belakangan permintaannya juga masih bagus," kata Muhammad Umar, penjual bibit eboni asal Purworejo, Jawa Tengah.

Umar menjual bibit eboni dengan aneka ukuran, mulai ukuran 10 centimeter (cm) sampai 2 meter (m). Ia menuturkan, bahkan ada beberapa pembeli meminta bibit pohon eboni dengan ukuran lebih dari 2 m. "Jika ada permintaan khusus, biasanya pembeli harus menunggu karena stok bibit lebih dari 2 m tidak selalu ada," ujarnya.

Bibit eboni berukuran 10 cm dibanderol mulai Rp 15.000 per bibit. Sedangkan bibit eboni yang sudah mencapai 2 m biasanya dibanderol Rp 300.000 per bibit. Umar mengatakan jika permintaan tidak rutin ada terus menerus, namun sekali ada permintaan, jumlahnya langsung banyak.

"Belum tentu rutin sebulan sekali ada permintaan. Tapi biasanya langsung borongan, misal sekali beli untuk 500 – 1.000 bibit. Rata-rata pada cari yang ukurannya sekitar 50 – 70 cm," jelasnya. Umar juga mengatakan jika pasokan bibit eboni cukup terbatas. Ia biasa memasok bibit tiap sebulan sekali.

Permintaan bibit eboni yang masih menjanjikan juga diakui oleh Herry Riwu, penjual bibit asal Bogor, Jawa Barat. Ia mengatakan. permintaan bibit eboni justru banyak datang dari luar Pulau Jawa. Kebanyakan pelanggan Herry berasal dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi sendiri bahkan sampai ke Papua.  "Kebanyakan dari luar Jawa, mungkin karena di sana lahan kosong masih banyak. Kalau di Jawa sudah habis tanahnya," kata Herry. Ia menjual bibit eboni berukuran 50 cm yang dibanderol Rp 75.000 per bibit.

Sama seperti Umar, permintaan bibit eboni milik Herry juga tidak pasti. Namun sekali ada permintaan, bisa mencapai 500 bibit eboni. Rata-rata pelanggan Herry membeli bibit eboni dalam jumlah kecil, misal sejumlah 50 – 100 bibit. Tapi ada pula pelanggan yang membeli dengan sistem borongan.        

Permintaan tinggi, pohon eboni kian berkurang

Diospyros Celebica Bakh atau yang lebih dikenal dengan sebutan pohon eboni merupakan tumbuhan penghasil kayu asli Indonesia. Secara alami, pohon eboni banyak dijumpai di Sulawesi Tengah, terutama di Parigi, Poso, Donggala, Sulawesi Selatan (Maros), Sulawesi Barat (Mamuju) dan Maluku.

Kayu eboni biasanya digunakan sebagai bahan baku produk furnitur. Selain bisa diolah menjadi berbagai produk furnitur, kayu eboni juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan jam kayu dan produk dekorasi ruangan. Manfaat eboni yang begitu banyak dalam industri kerajinan dan furnitur mendorong sejumlah pelaku usaha memburunya.  

Muhammad Umar, penjual bibit eboni asal Purworejo, Jawa Tengah mengatakan permintaan kayu eboni sebenarnya tinggi. Namun tingginya permintaan tidak diimbangi dengan pasokannya. "Stok pohon eboni alami di daerah aslinya sana katanya makin sedikit. Jadi sebenarnya bisa dibilang, pasar eboni sangat menjanjikan," katanya.

Umar menjelaskan, budidaya pohon eboni tidak berbeda jauh dengan pohon penghasil kayu lainnya, seperti jati dan sengon. Bibit eboni biasanya berasal dari penyemaian biji buah eboni. Biji tersebut kemudian diekstraksi dengan cara dipisahkan dari daging buahnya. Setelah itu dicuci dan dibersihkan.

"Biasanya saya rendam dulu di dalam air, selama satu sampai dua hari. Kemudian setelah perendaman, biji itu bakal muncul bakal akar. Jadi, direndam biar mempercepat perkecambahan," jelas Umar.

Hasil perkecambahan bisa dilihat setelah 3 minggu kemudian. Bibit awal pohon eboni bisa dipindahkan ke media tanam lain jika tunasnya sudah cukup kuat. Umar bilang, tunas eboni cukup kuat saat memasuki umur sekitar 6–7 minggu. Selama proses perkecambahan sampai tunas, tanaman eboni harus dijaga dari serangan serangga.

Herry Riwu, penjual bibit asal Bogor, Jawa Barat juga menjelaskan, hama yang sering menyerang tanaman eboni adalah serangga dan ulat. "Ulat biasanya memakan daun sampai habis. Kalau kutu putih menyerang batang pohon yang masih muda," ujarnya.

Ia lantas menyemprotkan air daun sereh sebagai obat alami. Hama tersebut bisa juga dikendalikan dengan menyemprotkan pestisida secara rutin. Sedangkan untuk pemberian pupuk diaplikasikan dua kali setahun selama dua tahun pertama.  

Herry lanjut menjelaskan jika kayu eboni siap dipanen saat berumur sekitar 5–7 tahun. Waktu panen ini sangat bergantung pada pemberian nutrisi dan pengendalian hama. Ia bilang jika sudah siap panen, tekstur kayu eboni nampak lebih keras.

"Kayu eboni berwarna coklat gelap, agak kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan. Biasanya punya tekstur halus dan arah serat kayunya lurus atau sedikit berpadu, permukaan kayu eboni juga agak licin," jelasnya.

kontan