Marsudi, Peternak Yang Sukses Angkat Ekonomi Warga lewat Kredit Susu

Ekonomi | DiLihat : 277 | Senin, 07 Mei 2018 | 09:52
Marsudi, Peternak Yang Sukses Angkat Ekonomi Warga lewat Kredit Susu

SEMARANG  – Menjadi peternak, terutama peternak sapi memang bukan pekerjaan yang mudah. Bau kandang, kotoran ternaknya hingga hal lain membuat banyak orang enggan memelihara ternak. Namun itu tidak bagi Marsudi Mulyo Utomo, peternak dari lereng gunung Merbabu, Jawa Tengah. Marsudi menjadi peternak sapi sudah sejak kecil.

Sempat mengalami masalah, kini Marsudi dan koperasi unit desa (KUD) Wahyu Agung-koperasi yang dipimpinnya berhasil mengembangkan usaha ternak sapi, hingga susu sapi miliknya dilirik perusahaan susu internasional.

Cerita ternak sapi dimulai kala 2009, saat Marsudi bersama 12 kelompoknya membuat KUD untuk mengelola sapi. KUD yang berdiri di Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang itu diberinama KUD Wahyu Agung.

Desa Sumogawe juga cocok menjadi tempat ternak sapi perah karena lokasinya berada di 1.500-1.700 permukaan air laut. Di bawah tangan dingin Marsudi, KUD itu berkembang pesat. Ternak sapi di KUD-nya difokuskan untuk pembibitan sapi, dan produksi susu. Hasil pembibitan sapi kemudian disebar ke anggota koperasi, yang juga warga sekitar untuk menjadi ladang penghasilan sehari-hari.

“Koperasi ini fokus dari pembibitan dari lahir sampe kawin. Ternak sapi ini mulai 2011 sebagai kandang percontohan,” kata Marsudi, saat ditemui Kompas.com, Minggu (6/5/2018) di tempat usahanya. Ratusan sapi perah berwarna hitam dan putih itu berjejer rapi di dalam kandang.

Ada 105 ekor sapi di kandang itu, yang sebagian diantaranya diperah susunya. Lantaran fokus di pembibitan, anakan sapi kemudian disebar dan dijual ke anggota koperasi. “Sudah berhasil mengeluarkan 250 ekor bibit sapi perah sejauh ini,” ujar dia. Sapi yang bunting dijual diatas harga Rp 20 juta. Sapi kadang dibeli oleh warga secara tunai, namun ada juga yang dibeli melalui kredit. Uniknya, cara membayar dilakukan dengan memotong setoran susu setiap harinya. Istilah itu kemduian dikenal Kredit Susu (Sapi). “Kredit Sapi ini bayarnya dengan setoran susu.

Anggota koperasi ini setor tiap hari 10-12 liter. Tiap 10 hari ditotal berapa setoran susunya, dihitung lalu sebagian setoran dipotong untuk membayar pembelian sapi,” ucap pria yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Sumogawe ini. Melalui kredit susu, sambung Marsudi, ia bisa membantu perekonomian warganya untuk mendapat penghasiilan lebih baik. Tiap susu yang disetorkan warga ke KUD Wahyu Agung juga langsung diproses untuk disetor perusahaan susu terkemuka Frisian Flag.

“Bayar kredit susu itu kalau susu sapinya sudah keluar, baru dipotong,” ungkapnya. Dalam mengembangkan ternak sapi, Marsudi tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan dokter hewan bernam drh Harmanto untuk membantu mengatasi masalah kesehatan sapi. Ternak sapi binaanya juga menjadi lokasi peneltiian dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Dari situlah, usaha koperasi sapi di desanya terus berkembang pesat hingga saat ini. Marsudi mengatakan, tiap hari, KUDnya mengirim sekitar 25.000 liter susu sapi segar.

Susu itu kemudian diambil perusahaan susu terkemuka Frisian Flag dengan harga relatif tinggi Rp 4.500-5.000 per liter. Dari penjualan susu sapi, KUD ini bisa mendapat omzet Rp 3 miliar-Rp 4 miliar per bulan. Fresh Milk Manager Frisian Flag Indonesia, Efi Lutfilah memuji cara Marsudi dan koperasinya memajukan warganya dengan pemerataan pendapatan warganya. Kredit sapi diperlukan untuk menambah jumlah populasi sapi.

Dengan populasi sapi meningkat, maka kebutuhan susu nasional bisa terpenuhi. “ Kredit susu (sapi) ini menambah populasi sapi. Kalau peternak punya jaminan memakai kredit usaha rakyat. Kalau gak punya jaminan dengan cicilan dengan susu. Jadi sifatnya saling saling percaya untuk dititipi sapi,” ujarnya.

kompas.com



PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau