Kisah Peternak Sulap Daun Kelapa Sawit Jadi Pakan Sapi Berkualitas

Lifestyle | DiLihat : 161 | Senin, 07 Mei 2018 | 09:19
Kisah Peternak Sulap Daun Kelapa Sawit Jadi Pakan Sapi Berkualitas

MERANGIN - Saat ini peternak di Kabupaten Merangin, Jambi sangat susah untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak karena hanya terpaku kepada rumput liar. Sementara semua lahan di wilayah ini hampir keseluruhan telah berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan karet.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya, peternak harus mencari rumput yang jaraknya puluhan kilometer dari rumahnya. Bahkan jika dihitung tidak sesuai lagi dengan nilai ekonomi yang dikeluarkan oleh peternak, hal ini sangat terlihat di saat musim kemarau peternak sangat kesulitan untuk mencari rumput karena tidak memiliki alternatif lain sebagai pakan ternaknya.Bermula dari kejadian ini, Sukirman (50) warga Desa Pelakar Jaya, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi mencoba secara mandiri menciptakan inovasi dengan membuat pakan ternak dengan bahan baku daun kelapa sawit. Ide cemerlangnya ini pun membuahkan hasil dirinya tak perlu lagi mencari pakan ternak jauh-jauh lagi karena bahan bakunya banyak disekitar rumahnya.

"Ya, itu saya awali dari pengalaman saya saat mencari rumput di saat musim kemarau. Dari pagi saya mencari rumput pulang ke rumah hingga malam hari untuk memberi makan 10 ekor sapi saya. Namanya ternak, ya kerjanya cuma makan saja sehingga saya harus memberikan pakan yang lebih dari cukup" terang Sukirman.

Setelah bertahun-tahun kesulitan, Sukirman pun mencoba inovasinya tersebut dengan belajar secara otodidak. "Saya belajar sendiri, pertama-tama saya coba daun sawit saja saya hancurkan dan langsung saya berikan ke ternak sapi saya, namun ternyata ternak saya kurang lahap makannya. Kemudian saya coba lagi tambah campuran di mana setelah daun kelapa sawit dihancurkan kemudian dicampur dedak dan garam, cara ini ternyata ternak saya tambah sedikit lahap. Saya pun belum puas, kemudian saya fermentasi di mana campuran tadi saya siram air dan kemudian difermentasi didalam drum selama sekitar lima hari dan hasilnya ternak sapi saya sangat lahap memakannya," terangnya lagi.Selain menekan biaya ternak, Sukirman pun memanfaatkan semuanya hasil ternak tersebut menjadi pupuk yang dimanfaatkan untuk kebun sawit dan pertanian buah naganya.

"Kotoran sapi saya manfaatin untuk pupuk kelapa sawit dan pertanian buah naga, alhamdulilah saat ini saya tidak lagi membeli pupuk. Dan omzet yang saya dapat cukup menggiurkan setelah saya bisa menekan biaya pakan ternak ini" pungkasnya.Sayangnya, hingga saat ini inovasi yang dicetuskan oleh Sukirman belum diakomodir oleh pemerintah, sehingga belum dicontoh oleh peternak lainnya di kabupaten Merangin.

okezone