Kreatif, Warga Desa Sulap Semak Belukar Menjadi Wisata Taman Selada

Potensi Desa | DiLihat : 97 | Jumat, 04 Mei 2018 | 13:33
Kreatif, Warga Desa Sulap Semak Belukar Menjadi Wisata Taman Selada

BANYUWANGI - Desa-desa di Banyuwangi kini berlomba-lomba untuk membuat destinasi wisata. Seperti di Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, warga setempat menyulap tempat yang dulunya semak belukar menjadi wisata taman selada yang instagramable.

Di Dusun Rejopuro terdapat sungai dangkal yang airnya bening dengan arus yang tidak deras. Di sungai itu terdapat banyak batu-batu kali.

Di sekitar sungai banyak terdapat kolam-kolam yang ditumbuhi selada, mirip sebuah taman, dengan dikelilingi hamparan persawahan.

Tempat ini belum punya nama, karena belum satu bulan dibuka. Bahkan belum dilaunching. Warga setempat ada yang menyebutnya Wisata Rejopuro. Meski baru dibuka, namun telah banyak ratusan wisatan yang datang untuk mandi dan berenang.

Tempat wisata ini dulunya semak belukar. Dulu warga datang ke tempat ini hanya untuk mencari tanaman selada. Sekitar Januari 2018, warga setempat bahu-membahu membersihkan tempat ini untuk dijadikan wisata pemandian.

”Dulu tempat ini semak belukar seperti hutan. Warga lalu kerja bakti secara swadaya membersihkan, dan memindahkan batu-batu yang besar,” kata Kepala Desa Kampunganyar, Siti Latifah Hairiyah, Selasa (24/4).

Warga menata tempat ini, dengan membuat gubuk-gubuk di sekitar sungai untuk peristirahatan, dan warung ikan bakar. Sungai dan saluran irigasi yang ada dibersihkan dan dijaga. Saluran irigasi yang mengelilingi taman itu sangat bening, dan kini dijadikan budidaya ikan nila.

Siti mengatakan tempat ini dikelola oleh warga melalui karang taruna dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Siti mengakui fasilitas di tempat ini masih terus dibenahi. Itulah sebabnya belum dilaunching.

”Tempat ini belum diresmikan sebenarnya, tapi sudah banyak orang yang datang ke tempat ini,” kata Siti.

Suwito, anggota Karang Taruna Rejopuro, mengatakan, saat akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, sekitar 400 orang yang datang ke tempat ini.

”Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya bisa 400 orang lebih yang datang ke tempat ini,” kata Suwito.

Tidak ada tiket masuk ke tempat ini. Namun karang taruna dan PKK, mengelola dari pendapatan parkir, dan penyewaan ban untuk permainan air. Pendapatan dari parkir persewaan ban itu diperuntukkan untuk membantu janda-janda tua, bedah rumah, dan aktifitas sosial lainnya.

”Hasilnya masih belum banyak, tapi dari tempat ini kami sudah bisa membedah satu rumah warga yang tidak layak,” kata Suwito.

Selanjutnya warga setempat terus dibina untuk bisa mendapat nilai lebih dari tempat wisata ini. Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo, mengatakan, akan menjadikan dusun ini menjadi sentra ikan nila.

”Kalau di Sukamaju ada sentra ikan gurami, di tempat ini akan kami jadikan sentra ikan nila. Kami telah menyebar benih ikan nila di kolam-kolam dan saluran irigasi yang ada di sini. Persawahan yang ada juga kami kembangkan menjadi mina padi, menanam padi sambil merawat ikan” kata Hary.

Hary mengatakan, dipilihnya nila karena ikan ini cepat tumbuh. Tiga bulan sudah bisa dikonsumsi. Beda dengan gurami yang membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk panen. Warga setempat terutama ibu-ibu rumah tangga, dilatih untuk mengolah ikan nila bakar serta penyajiannya.

”Harus ada nilai lebih dan ciri khas di dusun ini, sehingga bisa menjadi branding agar banyak wisatawan yang datang,” kata Hary. (haorrahman)

bali.tribunnews