Merti Dusun, Tradisi Unik dan Wisata Budaya di Kulon Progo.

Potensi Desa | DiLihat : 419 | Jumat, 04 Mei 2018 | 10:17
Merti Dusun, Tradisi Unik dan Wisata Budaya di Kulon Progo.

KULON PROGO – Ratusan orang memenuhi kaki Puncak Widosari di Pedukuhan Tritis, Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Selasa (1/5/2018).

Puncak Widosari merupakan destinasi Kulon Progo untuk wisata panorama dari ketinggian di Bukit Menoreh. Semua orang itu warga Tritis. Mereka berdandan. Sebagian pria mengenakan surjan sebagai baju, jarit untuk bawahan, sandal slop, menutup kepalanya dengan blangkon, dan menyelipkan keris di belakang pinggang.

Sebagian perempuan mengenakan kebaya  dan bersanggul. Selebihnya, mengenakan baju batik, kebaya modern, hingga baju lurik. Mereka melangsungkan tawasulan atau tahlilan di sana. Di hadapan mereka terdapat gunungan berisi palawija dan nasi tumpeng. Usai memanjat doa itu, mereka memotong tumpeng dan membaginya. “Ucapan syukur dan memohon agar dusun selalu dilimpahi gemah ripah loh jinawi,” kata Warih Trianto, Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata Argo Binangun di Ngargosari.

Tradisi Merti Dusun
Ini semua bagian dari perjalanan tradisi Merti Dusun Tritis, kata Warih. Tradisi ini akan terus dipertahankan di tengah terus berkembangnya Tritis sebagai salah tujuan wisata. “Kita harus tetap menjaga adat istiadat di tengah berkembangnya dusun. Kita mengawatirkan dari generasi ke generasi tradisi ini menjadi punah. Tanda-tandanya tentu ada,” kata Warih. Tritis merupakan satu dari 11 pedukuhan di Ngargosari. Dukuh ini berada di ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Tritis naik daun dengan wisata panorama Puncak Widosari dan perkebunan teh. Warih mengatakan, ribuan orang tiap bulan mampir ke dua destinasi ini.

Obyek Pariwisata
Sebagaimana orang Jawa pada umumnya, warga Tritis juga masih memegang erat adat istiadat sampai sekarang. Ia mencontohkan, warga menggelar nyadran tiap sya’ban dan rutin membersihkan mata air dan sungai di dusun karena menganggap sebagai sumber penghidupan warga. Karenanya, setiap setahun sekali berlangsung Nyadran dan Merti Dusun. Tradisi ini diyakini menguatkan keistimewaan Tritis sebagai tujuan wisatawan, bukan hanya ada destinasi semata. Itulah mengapa setiap tahun warga mempertahankan tradisi nyadran dan merti dusun ini. Selain sebagai mempertahankan tradisi, juga turut mendukung wisata andalan dan potensi lain yang ada di Tritis. “Apalagi wisata makin membuat anak-anak muda dusun di karang taruna semakin aktif terlibat,” kata Warih. Tiap Nyadran maupun merti dusun, mereka memunculkan seluruh potensi dusun. Seperti hari ini, warga mengarak pawetu bumi (palawija dsb) mengelilingi jalanan dusun yang mengular di jalan yang berada di pinggir-pinggir tebing. Kepala dukuh, komunitas-komunitas pemuda dukuh, ibu-ibu PKK, sampai para pesilat kampung mengarak gunungan dan tumpeng itu sambil diiringi tetabuhan kendang, gamelan, rebana, suling, juga gong.

Suara itu bercampur pula dengan gemerincing giring-giging di sepatu para penari dari kelompok seni Topeng Ireng, kesenian tradisional Tritis. Suara tetabuh itu sampai menggema di lembah bukit. “Tritis yang hanya berisi 90 kepala keluarga bisa membuat event sebesar ini, sudah luar biasa,” kata Yudono Hindri Atmoko, Kepala Bidang Pemasaran Wisata dari Dinas Pariwisata Kulon Progo. Yudono mengatakan, pemerintah juga mendorong pedukuhan-pedukuhan di sekitarnya juga bisa memunculkan hal serupa. “Pedukuhan-pedukuhan lain bila dikumpulkan makin bisa mengangkat destinasi wisata di sini. Tapi yang paling utama adalah harus rutin,” kata Yudono.

Merti Dusun selalu mengundang perhatian. Banyak warga tertarik datang untuk menonton. Tidak sedikit warga dari luar Tritis sengaja datang untuk menyaksikan ini. “Saya sengaja datang untuk melihat acara ini sekaligus naik ke Puncak Widosari. Kebetulan sudah lama tidak ke sini. Katanya banyak perubahannya dan makin bagus saja,” kata Sutikno, warga Sleman. Setelah berkeliling sekitar 3 Km, arak-arakan sampai di depan rumah kepala dusun. Di sana, mereka melangsungkan selamatan dan mengakhirinya dengan rebutan gunungan palawija. “Saya sudah mempersiapkan untuk ini. Dapat (sayur mayur) ini saja. Nanti dimasak di rumah,” kata Siti Mariatun, warga Tritis. 


kompas