Kementan Melepas Ekspor Gula Serbuk Organik

Ekonomi | DiLihat : 114 | Jumat, 04 Mei 2018 | 09:53
Kementan Melepas Ekspor Gula Serbuk Organik

Temanggung— Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melepas ekspor gula serbuk organik di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Perkebunan Soropadan, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (2/5/2018).

"Kementerian Pertanian mendukung dan mendorong kreasi petani berupa produk olahan gula serbuk dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani," ujar Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Pertanian, Hari Priyono, sela acara.Komoditas tersebut diekspor ke sejumlah negara di Benua Biru. Sebanyak 18,5 ton dalam satu kontainer dikirim ke Polandia. Sedangkan 10 kontainer lain, diekspor ke Jerman, Yunani, Inggris, dan Australia.

Mantan Sekretaris Jenderal Kementan ini menerangkan, gulat semut kelapa organik sedang tren di pasar internasional. Karenanya, diminta akses pasar serta layanan standarisasi ditingkatkan dan dipermudah.
Hari menambahkan, Kementan mendorong terbentuknya desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan. Maksudnya, menerapkan budi daya perkebunan ramah lingkungan dengan pola pemenuhan input usaha tani mandiri berbasis potensi agroekosistem dan keanekaragaman hayati. Sehingga, menghasilkan komoditas perkebunan berkualitas dan aman untuk dikonsumsi.

Pada kegiatan tersebut, terdapat stand kopi dan dilakukan penyerahan letters of intens (Lol) dan penandatanganan MoU. Dengan begitu, pemasaran produk organik perkebunan yang dihasilkan lebih luas dan terjamin.

Sebagai informasi, sudah terbentuk desa pertanian organik di 155 desa di 73 kabupaten/kota di 23 provinsi. Ada delapan komoditas yang dikembangkan, seperti kopi, kakao, teh, kelapa, aren, lada, pala, dan jambu mete.

Untuk mengembangkan desa pertanian organik, Kementan mengucurkan beragam bantuan input produksi. Di antaranya sapi, kambing, palawija, tanaman pakan dan kandang ternak, dan rumah kompos.
Ada juga peralatan laboratorium sederhana meliputi pembuatan agensia pengendali hayati (APH), pestisida nabati, dan mikro organisme lokal (MOL), serta peralatan pertanian kecil dan gerobak.

Pemerintah pun memfasilitasi akses petani terhadap pelaki pasar dalam pengembangan pertanian organik. Tujuannya, ekspose kegiatan ekspor, menjadi wahana meyakinkan petani atas keseriusan pemerintah, serta membangun komitmen antara kelompok tani dengan pengusaha dan pemerintah daerah dalam meningkatkan produksi.

Hingga awal Mei 2018, sejumlah capaian ditorehkan. Contohnya, 86 pelaku organik disertifikasi, jumlah ternak melonjak (kambing/domba menjadi 1.917 ekor dari 1.640 ekor serta sapi dari 511 ekor bertambah satu ekor), dan petani mulai mandiri dalam menggunakan input produksi. Lalu, penandatanganan LoI antara kelompok tani pelaksana kegiatan di Jawa Timur dan Maluku dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2017.

Bahkan, rencananya Jatim mengekspor kopi dan Banten mengirim gula semut keluar negeri pada tahun ini. Juga ditargetkan mendapat sertifikat organik SNI, organik ekspor sesuai negara tujuan, Rainforest Alliance, dan UTZ.

rilis