Hidroponik, Solusi Pertanian Lahan Sempit

Ekonomi | DiLihat : 371 | Senin, 30 April 2018 | 10:09
Hidroponik, Solusi Pertanian Lahan Sempit

Kalimantan Tengah memiliki potensi lahan pertanian yang masih sangat luas. Kendati demikian, prospek pemanfaatan lahan sempit, seperti di pekarangan rumah, saat ini menjadi tren tersendiri bagi masyarakat perkotaan di Palangka Raya. Lahan sempit banyak dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas hortikultura, seperti sayuran dan tanaman obat.

Untuk memenuhi kebutuhan informasi teknologi tersebut, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah melalui kegiatan visitor plot menggelar Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Hidroponik mendukung pertanian perkotaan.Sistem teknologi hidroponik adalah budidaya tanaman dengan memanfaatkan air sebagai media tumbuhnya dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Dalam kegiatan visitor plot, tanaman yang dibudidayakan adalah jenis sayur sawi pakchoy dan morakot (sawi pahit). Aplikasi nutrisi yang diberikan pada tanaman menggunakan ukuran satuan parts per million (ppm), mulai dari pindah tanam dari semaian sampai dengan minggu akhir menjelang panen. Hara tanaman yang terlarut dalam air menjadi larutan hara dimanfaatkan kembali dengan cara resirkulasi (sistem tertutup) dengan menggunakan energi listrik.

Menurut penanggung jawab visitor plot, Sandis W Prasetya SP, sistem hidroponik memiliki banyak kelebihan. Antara lain, penggunaan lahan yang lebih efisien, lingkungan maupun pemberian nutrisi (pupuk) yang dapat diatur, tanpa media tanah, tidak ada gulma, dan tidak ada risiko penanaman terus-menerus sepanjang tahun. Selain itu, kuantitas dan kualitas produksi juga lebih tinggi, lebih bersih, bebas dari racun pestisida, penggunaan pupuk dan air yang lebih efisien, serta periode tanam lebih pendek.

“Sedangkan kekurangannya adalah membutuhkan modal yang relatif besar pada saat awal pelaksanaan,” kata Sandis.

Dengan sistem hidroponik, kata dia, tanaman juga relatif lebih cepat tumbuh kembang karena unsur hara dalam larutan dapat secara optimal dimanfaatkan sepenuhnya oleh tanaman. “Sehingga daun lebih lebar, daging buah lebih besar, dan kokoh.”

Dia melanjutkan, kegiatan visitor plot juga sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian (Kementan) mengiinisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL merujuk pada usaha pekarangan secara intensif di pemukiman penduduk. RPL memanfaatkan berbagai sumber daya lokal secara bijaksana guna menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. (Dedy Irwandi/Balitbangtan)

republika


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau