Hipka dan Jamkrindo Berikan Pelatihan Beternak Puyuh

Ekonomi | DiLihat : 145 | Senin, 23 April 2018 | 10:51
Hipka dan Jamkrindo Berikan Pelatihan Beternak Puyuh

SUKABUMI-Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP Hipka) dengan Perum Jamkrindo melakukan kegiatan pelatihan berternak burung puyuh  untuk masyarakat umum atau pelaku peternakan puyuh di seluruh Indonesia.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan bisa mencetak pengusaha-pengusaha baru di bidang agribisnis peternakan khususnya puyuh untuk memajukan dunia wirausaha di Indonesia. Kegiatan pelatihan telah dilaksanakan pada 20-22 April 2018 di Slamet Quail Farm Jl. Pelabuhan ll KM. 20 Desa Cikembar, Kec. Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat.

Peserta pelatihan sebanyak 30 orang yang berasal dari Hipka, Perum Jamkrindo, Maporina, Forhati, PB HMI dan OK OC.

Narasumber pelatihan menghadirkan Slamet Wuryadi, pemilik CV Slamet Quail Farm yang juga Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia dan pengarang buku Sukses Beternak Puyuh, dan dihadiri sejumlah pejabat perwakilan dari Perum Jamkrindo.

Wakil Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha KAHMI (Hipka) Subandriyo mengatakan pelatihan beternak burung puyuh ini adalah salah satu kegiatan Hipka yang dilaksanakan secara berkelanjutan dengan target untuk melahirkan pengusaha UMKM baru di bidang pangan, untuk ikut menyukseskan program pemerintah membuka lapangan kerja baru.

"Ke depan HIPKA merencanakan penyelenggaraan pelatihan untuk usaha-usaha  yang hasil produksinya dapat langsung diserap pasar sebagaimana pelatihan ternak burung ini. Saat ini yang sudah teridentifikasi pelatihan yang akan digarap Hipka antara lain pelatihan beternak sidat dan berkebun buah naga untuk pasar eksport dan pelatihan barista (meracik kopi ) untuk mengantisipasi berkembangnya pasar dengang menjamurnya cafe-cafe di perkotaan," ujar Subandriyo.

Puyuh Itu Sehat

Dalam penjelasannya, Slamet Wuryadi mengemukakan pihaknya menyediakan tempat untuk pelatihan dan pemagangan bagi UMKM yang berminat untuk menjadi peternak burung puyuh.

“Banyak dari peserta pelatihan yang telah sukses menjadi peternak puyuh. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa bahkan ada yang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan dari Sorong,” ujarnya.

Slamet Wuryadi yang melakukan penelitian tentang unggas puyuh untuk pendidikan S1, S2 dan S3 nya telah melakukan penelitian mengenai burung puyuh. “Jadi teknik budidaya burung puyuh yang kami lakukan ini sudah berdasar hasil penelitian ilmiah termasuk memastikan bahwa produksi telur dan daging puyuh kami sehat.”

Untuk membuktikan bahwa telur dan daging puyuh itu sehat, pihak Slamet Quail Farm (SQF) telah melakukan pengujian laboratorium di IPB dan UGM yang hasilnya membuktikan bahwa puyuh itu sehat dikonsumsi.

Hasil pengujian di Laboratoriun Pengujian LPPT – UGM menyebutkan kadar kolesterol telur puyuh dari SQF hanya 225,75 sedangkan hasil Lab IPB menyebutkan kandungan kolesterol telur puyuh sebesar 291,6.

Data tersebut sangat berbeda dengan data dari General Hospital Singapura yang menyebutkan telur puyuh memiliki kandungan kolesterol 3.640.  Data yang disebutkan dari General Hospital Singapura itu beredar luas dan selama ini banyak mempengaruhi sikap masyarakat sehingga menghindari mengkonsumsi telur puyuh.

“Bagi kami ini merupakan bagian dari perang dagang. Negeri kita, diberkahi dengan hewan burung puyuh yang bisa menjadi sumber protein hewani yang sehat bagi rakyat. Tapi alhamdulillah, sudah semakin banyak masyarakat yang faham mengenai sehatnya telur dan daging puyuh ini,” tambah Slamet Wuryadi.

bisnis