Perbaikan Jembatan Cicin Lama Butuh 50 Hari

Infrastruktur | DiLihat : 99 | Jumat, 20 April 2018 | 13:17
Perbaikan Jembatan Cicin Lama Butuh 50 Hari

JAKARTA -- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan perbaikan Jembatan Cincin Lama yang menghubungkan Lamongan-Tuban selesai dalam 50 hari sehingga dapat dilintasi pada masa mudik Lebaran. 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan jembatan ini merupakan jembatan lama dan sudah dibangun Jembatan Cincin Baru di sebelahnya. Kedua jembatan tersebut masing-masing melayani kendaraan satu arah.Rubuhnya Jembatan Cicin Lama atau Babat ini karena beban berat dari tiga truk yang melintas dengan total berat 120 ton, sedangkan jembatan tersebut hanya bisa menanggung berat kendaraan sebesar 75 ton.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, Jembatan Cincin Lama merupakan jembatan jenis rangka baja callendar hamilton dengan panjang total sekitar 260 meter, terdiri dari 4 bentang sepanjang 55 meter dan 1 bentang sepanjang 40 meter.

"Jembatannya layak, tapi beban truk sampai 120 ton yang lewat. Itu baru quick assesment. Kami serahkan kepada polisi untuk overloading-nya, untuk teknis jembatan kami kirim tim ahli untuk menangani dan kami masih investigasi," ujarnya, Rabu (18/4/2018).

Kementerian PUPR telah mengirimkan rangka baja cadangan sepanjang 60 meter untuk mengganti rangka baja yang rusak di Jembatan Cincin Lama dari Citeurep Bogor.

"Kami berharap pondasi jembatan itu tidak ikut rusak, kalau pondasinya rusak lebih lama karena kami bangun dulu, kerangka baja untuk mengganti sudah dikirim hari ini. Mudah-mudahan bisa selesai 40 hari hingga 50 hari," ucap Basuki.

Dia menuturkan Kementerian PUPR melalui Direktorat Jalan dan Jembatan kerap kali melakukan pemeliharaan dan pengecekan jembatan dan jalan secara rutin. Apabila dari hasil investigasi terdapat kelalaian dalam pemeliharaan, Basuki menyatakan siap memberikan sanksi.

Saat ini, Kementerian PUPR bersama dengan Kementerian Perhubungan tengah membahas pengoperasian jembatan timbang. Nantinya, kendaraan yang overload tidak dikenakan denda tapi harus menurunkan barang bawaan yang berlebih.

"Ini wewenang Menteri Perhubungan. Selama ini, kalau lihat di jalur Pantura bukan musim mudik banyak kendaraan truk yang berbaris, mereka kendaraan over dimension and overload, sudah ban tinggi, rangka tinggi dan lebar," tuturnya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengungkapkan saat ini tim Komite Keselamatan Konstruksi dan ahli independen tengah meninjau jembatan tersebut. Pihaknya juga melibatkan Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk ikut membantu investigasi.

"Kalau secara kasat mata melihat ada truk yang jatuh, kemungkinan besar kelebihan beban," sebutnya.

bisnis