Jurus Maut Kepala Desa Ponggok Klaten Membangun Desa

Potensi Desa | DiLihat : 334 | Selasa, 17 April 2018 | 13:08
Jurus Maut Kepala Desa Ponggok Klaten Membangun Desa

KLATEN, Indonesia — Sebanyak 40 ribu wisatawan berkunjung ke Desa Ponggok Klaten Jawa Tengah setiap bulannya. Terdapat empat umbul alami yang dijadikan jujugan wisatawan. Ada 9 ton padi dihasilkan setiap lima bulan. Sekitar 7 ton ikan air tawar dipanen setiap minggunya. Pendapatan desa melonjak hingga Rp 4,2 miliar per tahun. Potensi yang tergali dengan bertumpu pada kemauan warga dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi.

Siapa sosok di balik semua kesuksesan itu?

Undang mahasiswa

“Pembangunan desa yang terencana itu muncul untuk menepati janji saya saat kampanye. Kepada warga saya janjikan Ponggok akan menjadi desa wisata mandiri, berkelanjutan, merata dan adil, maju dan peduli pada lingkungan,” kata Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono Sabtu 14 April 2018 pada Rappler.


Tiga bulan setelah terpilih di tahun 2006, ia berkirim surat pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM UGM). Ia meminta UGM untuk menurunkan mahasiswa KKN tematik dengan tujuan membenahi pendataan tentang potensi dan kendalan dari Desa Ponggok. Ia merasa desanya tidak mengalami kemajuan dan pembangunan yang muncul salah sasaran.


Perbaikan jalan, perbaikan talut, gedung yang megah dan tinggi memang terjadi namun tidak banyak mengubah kondisi warga. Usaha budidaya ikan air tawar yang dirintisnya sejak lulus kuliah dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta tidak berkembang karena tidak tersentuh pembangunan.  

Surat pun bersambut dengan penempatan mahasiswa KKN selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2007. Hasilnya, Junaedi pun melihat potensi dan masalah nyata yang membutuhkan rencana tepat yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) desa. “Warga saya terlilit kemiskinan, pengangguran, rentenir. Temuan mahasiswa merinci jumlah penduduk miskin, luas sawah, perikanan, potensi air, peternakan, jalan rusak, talut, sumber daya manusia, dan berbagai data lain yang sangat berguna untuk membuat RPJM,” jelasnya.

Masalah lain yang ditemukan adalah pembangunan tak tepat sasaran, sumber daya manusia yang kurang, pola pikir terhadap pembangunan, serta tidak efektifnya aparat pemerintah yang dibebani fungsi ganda, sebagai pelayan masalah publik sekaligus menggenjot perekonomian masyarakat.  

Berangkat dari temuan masalah itu, kepala desa kelahiran 43 tahun lalu ini mulai menyusun empat jurus maut guna menyelesaikan masalah. Tata ruang dan perencanaan wilayah ada di jurus pertama, disusul membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebegai sektor penggerak ekonomo dan keuangan masyarakat,  kemudian meningkatkan sumber daya manusia, dan melibatkan teknologi informasi sebagai jurus penutup.  

Empat jurus maut

Sejumlah program kemudian lahir dari empat strategi itu Gebrakan pertama adalah program satu rumah satu kolam. Program ini ada di awal ia menjabat dan ditujukan pada rumah di sekitar irigasi dan sungai sebagai strategi mengatur hunian di tepi sungai sekaligus memanfaatkan aliran sungai.

Ada pula program potong satu pohon tanam empat pohon yang ditujukan untuk konservasi lingkungan. Aturan 30% zona hijau juga diterapkan di setiap pembangunan hunian baru. Tahun 2009 BUMDES didirikan untuk mengembangkan perekonomian warga. Hasilnya kini terdapat sekitar 160 usaha kecil dan menengah milik warga setempat yang dipasarkan oleh Bumdes. 

“Hasil budidaya diolah, tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar tetapi juga makanan kering karya ibu-ibu  setempat. UKM apapun kami serahkan pemasarannya pada BUMDES,” katanya. Sumber daya umbul atau mata air kemudian dimanfaatkan sebaga daerah wisata. Letak Ponggok yang berada di antara jalur Solo-Yogyakarta menjadi salah satu modal keyakinan membangun desa wisata. Kini terdapat empat umbul, yaitu Umbul Ponggok, Umbul Sigedang, Umbul Kapilaler, dan Umbul Ciblong.

Wisata yang semakin berkembang dampaknya merembet pada mata pencaharian warga yang berkembang dari bertani dan budidaya ikan meluber pada jasa kuliner dan jasa lain mengikuti perkembangan wisata. Hasilnya, Kades yang telah menjabat selama 12 tahun itu mengklaim pendapatan warga Ponggok kini mencapai rata-rata Rp 1,5 juta per bulan.

“Ibu-ibu yang dulu tidak memiliki pendapatan dan pekerjaan, sekarang bisa berjualan kuliner atau mengelola ikan segar dalam bentuk lain dan menjadi pemasukan tambahan," katanya. Seiring dengan perkembangan perekonomian itu, program lain juga bisa dikejar. Strategi sumber daya manusia digenjot dengan subsidi  sebesar Rp 300 ribu per bulan bagi penduduk yang sedang belajar di perguruan tinggi, dalam program satu rumah satu mahasiswa. “Sekarang ada sekitar 56 orang,” jelas nya.

Meskipun programnya terus berjalan dan berkembang, bukan berarti tak ada kendala yang merintangi. Ia sering berhadapan dengan pola pikir lama. Yaitu bekerja tanpa rencana dan berjalan apa adanya. Program IT pertamanya, membagikan telepon seluler android pada perangkat desa sempat ditentang. Namun ia membuktikan dengan terlibatnya media sosial dalam pemasaran Umbul Ponggok menjadi salah satu jurus jitu menggenjot pariwisata.“

Sekarang seluruh perangkat RT RW juga dibekali android. Satu foto yang diunggah di Instagram bisa berdampak besar sebagai informasi jika kemudian disukai ataupun disebarkan oleh follower yang lain,” paparnya.

Pembangunan tersebut menurutnya juga membutuhkan anggaran. Sehingga ia menyambut baik program dana desa yang diterima desanya sejak tahun 2015. Ponggok menerima anggaran sebesar Rp 300 juta yang berkembang di tahun berikutnya sebesar Rp 500 juta dan bertambah lagi sebesar Rp 800 juta di tahun ke tiga.

Kucuran dana desa dirasa sangat bermanfaat mempercepat pembangunan yang salah satunya berdampak pada meningkatnya pendapatan desa per tahun hingga tahun ini ditargetkan sebesar Rp 4,4 miliar. “Itu hanya pendapatan desa ya, berbeda sama BUMDES. Karena kami memisahkan antara desa dan BUMDES. Jadi targetnya dan pengelolaanya beda,” katanya.

Janji Sri Mulyani

Dana desa di Desa Ponggok dialokasikan 40% untuk infrastruktur dan 60% untuk program pemberdayaan. Hasilnya selain dirasakan oleh warga setempat, juga mendapatkan pengakuan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengunjungi langsung Desa Umbul Ponggok karena prestasinya dalam mengelola dana desa.  

Kepada Junaedi saat itu Menteri Keuangan menjanjikan akan megajaknya ke Eropa. “Waktu itu mau diajak ke Eropa sama Bu Menteri. Kalau bagi saya, luar negeri itu peternakan dan pertanian semuanya dilakukan dengan perencanaan matang. Di Australia, di Taiwan, itu peternakannya luas dan petani nya makmur. Di Singapura dan Korea itu kotanya tertata rapi,” katanya menuturkan pengalamannya berkunjung ke beberapa tempat di luar negeri.

Dari berbagai tempat yang pernah dijumpainya, Junaedi kagum dengan perencanaan, tata kota serta majunya iddustri pertanian dan peternakannya. Dia berharap Ponggok akan maju tanpa merusak tata kota sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan potensi alamnya.

“Saat ini air dari Ponggok dipakai oleh lima kecamatan, salah satunya kecamatan Delanggu yang menghasilkan beras istimewa, beras Delanggu. Air kami berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di Merbabu dan Merapi. Perlindungan lingkungan penting dalam program pembangunan desa,” tandasnya.

Rappler.com