Menanam Padi di Kotak Sambil Memelihara Belut Bisa Dilakukan di Halaman Rumah

Ekonomi | DiLihat : 105 | Kamis, 12 April 2018 | 15:33
Menanam Padi di Kotak Sambil Memelihara Belut Bisa Dilakukan di Halaman Rumah

YOGYA - Ada yang unik dari Gelar Potensi Pertanian Kota Yogyakarta dimana ada kelompok tani yang memadukan pertanian padi dan memelihara belut.

Ketua Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi Tompeyan Tegalrejo, Eka Yulianta mengaku bahwa dengan menanam padi belut tersebut pihaknya mendapatkan dua manfaat sekaligus.

Pertama adalah hasil panen padi dan kedua adalah belut.

"Jadi ketika panen padi, kita juga panen belut. Pasalnya usia belut dan padi disesuaikan sehingga bisa dipanen bersamaan," ujarnya di stand Gelar Potensi Pertanian Kota Yogyakarta 2018 di Halaman Balaikota Yogyakarta, Kamis (12/4/2018).

Ia menjelaskan bahwa sebenarnya menanam padi di dalam boks lebih praktis, termasuk masa perawatan hingga panennya.

Benih yang akan disemai direndam dulu semalaman lalu pada pagi harinya disemai di dalam media tanam. Ketika benih berusia 7-10 hari diambil lalu ditanam di media baru.

"Pada 10 hari kedua belut dimasukkan. Usia belut yang dimasukkan nanti sama dengan saat panen nanti," ucapnya. Eka menjelaskan bahwa boks tersebut diletakkan di halaman rumah warga.

Mereka cukup melihat kondisi air dan menggantinya seminggu sekali. Membersihkan rumput pun tidak perlu dilakukan setiap hari, bisa seminggu sekali atau lebih.


"Jadi memang praktis. Keluar rumah, sudah bisa langsung dicek. Tidak perlu ke sawah," ujarnya. Ia menambahkan, nilai ekonomi padi belut tersebut sangatlah tinggi.

Ia mengklaim bahwa padi belut yang ditanam di boks besar mampu menghasilkan 0,6 kilo gram gabah yang jika disamakan dengan padi di sawah hasilnya jauh lebih banyak padi belut dalam box.

"Kadar air padi dalam box ini lebih sedikit ketimbang yang di sawah. Ini juga bulirnya lebih berat. Hal itu karena pengaruh media tanam dan perawatannya. Kami menggunakan padi jenis IR-64," tuturnya.

Ia mengaku baru mencoba metode tersebut sejak 8 bulam silam. Saat ini terdapat 40 boks yang ditempatkan di halaman rumah, gang, dan tepi jalan.Nanti pada Oktober mendatang jumlahnya akan bertanbah menjadi 1.500 boks padi belut.

"Kalau dampak ekonominya saat ini belum terasa karena masih baru dan untuk mensejahterakan warga sekitar terlebih dahulu. Tapi kalau tawaran (pembeli) dari supermarket dan luar kota memang sudah ada," ujarnya.

Ketika diperdagangkan nanti, Eka menjelaakan bahwa 1 Kg beras padi belut tersebut dapat bernilai Rp 30 ribu. Ia tidak berani melabeli beras tersebut sebagai beras organik. Eka menjelaskan bahwa seluruh proses penanaman dan perawatan dilakukan secara alami dan tanpa menggunakan pestisida.

tribunjogja


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau