Kementan gandeng PBNU tanam jagung di lahan seluas 100.000 hektare

Ekonomi | DiLihat : 208 | Selasa, 20 Maret 2018 | 10:53
Kementan gandeng PBNU tanam jagung di lahan seluas 100.000 hektare

Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan pemerintah daerah (pemda) dalam rangka meningkatkan produksi jagung nasional. Kerja sama ini juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para petani khususnya anggota NU di daerah.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengatakan, kerja sama dengan PBNU ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan. Pada tahun lalu, Kementan juga menggandeng PBNU untuk mengembangkan produksi cabai.

"Ini kerja sama masuk tahun ke-2, sinergi dengan PBNU, tahun kemarin berhasil. (Tahun lalu) Cabai, sekarang jagung," ujar dia di Kantor Pusat PBNU, jakarta Senin (19/3).

Dalam kerja sama ini, Kementan, PBNU dan Pemda akan menyiapkan lahan seluas 100 ribu hektare (ha) untuk dijadikan lahan pertanian jagung. Kementan akan memberikan bantuan berupa bibit, pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung program kerjasama ini.

"Tahun ini dilanjutkan 100 ribu ha seluruh Indonesia. Kalau bisa 100 ribu Insya Allah bisa menghasilkan 500 ribu ton jagung, nilainya Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun. Itu luar biasa untuk umat. Kita dorong terus kalau perlu kita tingkatkan tahun depan," kata dia.

Menurut Amran, dengan kerja sama semacam ini, selain meningkatkan produksi jagung nasional, juga akan berdampak langsung pada perekonomian umat. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Tujuan untuk meningkatkan kesiapan umat mengentaskan kemiskinan," ungkap dia.

Selain itu, kerja sama ini juga diharapkan mampu mendorong jagung menjadi komoditas ekspor dan menarik investasi di dalam negeri. Sebab, jika produksinya meningkat, maka industri pengolahan jagung juga akan terbangun. "Kemudian mendorong ekspor. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi kita kuat kita dorong ekspor dan investasi. Salah satu yang kita dorong ini ekspor dan pasti investasi bergerak. Kenapa? Akan berdiri pabrik feedmill (pabrik pakan) di daerah-daerah," kata dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, untuk daerah yang akan dijadikan lahan pertanian jagung, pihaknya masih akan menunggu usulan dari PBNU dan Pemda. Nantinya usulan wilayah tersebut akan diverifikasi kelayakannya untuk ditanami jagung. "Kami tunggu dari PBNU mereka siapnya berapa. Nanti kita verifikasi yang diusulkan," tandas dia.

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj mengatakan, 100 ribu ha lahan pertanian tersebut merupakan lahan milik warga NU. Lahan tersebut tersebar dari 22 wilayah di seluruh Indonesia.

"Iya warga NU nanam jagung dan didukung Menteri Pertanian. Traktor gratis, bibitnya bagus. Kalau sudah panen dipikirkan harganya juga bagus. (Lahan) Di 22 kabupaten, Bengkulu, ada di Jawa Timur itu Tuban Ponorogo, Sumatera Selatan, dan juga Kalimantan Timur, Sangatta Kutai Timur," ujar dia.

Menurut Said, sebenarnya banyak warga NU, khususnya di daerah, yang berprofesi sebagai petani jagung. Namun selama ini belum banyak mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah mulai dari proses tanam hingga untuk menjual hasil panennya.

"Ini memberikan afirmasi kepada petani yang mayoritas warna negara Indonesia, yang belum mendapatkan perhatian maksima. Mereka masih perlu mendapatkan bantuan, uluran tangan, perlu perhatian agar hasil tani mereka bercocok tanam dengan baik. Setelah berhasil, bisa menjual barangnya dengan harga yang menguntungkan. Selama ini belum ada perhatian yang maksimal," jelas dia.

Said menyatakan, sebenarnya yang dibutuhkan oleh petani lokal bukan sekadar gelontoran anggaran, melainkan bantuan yang lebih realistis seperti bibit unggul, pupuk gratis dan adanya pihak yang mau menyerap hasil jagung petani.

"Bukan masalah dana, yang penting petani ini didukung oleh pemerintah kemudian menghasilkan panen yang bagus. Dan pasca panen tolong dipikirkan harganya supaya petani untung ketika panen," tandas dia.

liputan6