MPBI Balitbangtan Bali Bikin Petani Senang

Ekonomi | DiLihat : 301 | Senin, 12 Maret 2018 | 10:40
MPBI Balitbangtan Bali Bikin Petani Senang

Denpasar - BPTP Balitbang Pertanian Bali telah mengembangkan Model Pertanian Bio Industri (MPBI) di Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan-Bali sejak 2015 lalu. Kini, hasilnya telah dirasakan oleh para petani.

Wayan Arsa, petani asal Banjar Mayungan Anyar di desa tersebut, senang melihat tanaman sayurannya tumbuh subur dan sehat.  "Ini berkat adanya kegiatan model Pertanian Bio Industri (MPBI) yang mengembangkan inovasi embung dan hidram di lokasi kami, hingga tanaman kami sekarang tidak kekurangan air lagi," ungkapnya, Minggu (11/3/2018).

Sebelum ada embung dan hidram, menurut Wayan Arsa, saat musim kemarau jangankan untuk bertani, untuk kebutuhan rumah tangga saja masih kekurangan air. Sedangkan, tanaman sayur merupakan komoditas utama di sana.

Komoditas tanaman utama yang menjadi sumber pendapatan petani di MPBI adalah, cabai besar, cabe kecil, tomat, kol, dan sawi putih serta ternaknya adalah ternak sapi.

Melalui kegiatan MPIB, BPTP Balitbangtan Bali, mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan dengan mengoptimalkan pemanfaatan pupuk organik padat dan cair, serta perangkap hama untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida.

Ini dilakukannya selain membangun embung dan hidram, untuk menangani permasalahan air yang menjadi titik ungkit pengembangan MPBI di Desa Antapan.

Dengan adanya embung dan hidram, petani menjadi sangat antusias mengembangkan tanaman sayuran maupun tanaman lainnya. Kondisi ini disebabkan menurunnya kebutuhan waktu dan tenaga untuk melakukan penyiraman.

Sebelum MPBI, petani butuh waktu 10,6 jam untuk menyiram lahan sayuran seluas 30 hektare, sedangkan pada saat ini cukup 2,4 jam. Secara ekonomi adanya embung ini menurun biaya tenaga kerja sampai 34,17 persen.

Keadaan ini disebabkan air yang sudah tertampung langsung di lahan petani. Selain efisiensi tenaga kerja, petani juga mengatakan adanya penurunan biaya penyusutan kendaraan bermotor untuk melakukan penyiraman.

Karena, selama ini sebelum adanya embung dan hidram petani mengunakan sepeda motor untuk mengangkut air dari sumber air ke lahan mereka dengan jarak sekitar 3-6 kilometer.

Disebutkan pula bahwa sebelum MPBI, antara bulan Juli sampai dengan Oktober, ketersediaan pakan ternak juga sangat terbatas.

Kondisi ini disebabkan rendahnya produksi pakan dari tanaman pakan hijauan, juga ketakutan petani menggunakan limbah sayuran untuk pakan ternak mereka.

Dengan pengembangan embung, pengembangan tanaman pakan unggul seperti rumput odot, indigofera, dan pengembangan usaha tani ramah lingkungan, limbah sayuran yang saat ini tersedia sepanjang tahun juga dimanfaatkan untuk pakan.

Pada Tahun 2015, di lokasi MPBI dibangun 24 unit embung dan 2 unit pompa hidram dengan jaringan irigasinya sepanjang 2,7 kilometer.

Selanjutnya, sampai dengan tahun 2017 bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, jumlah embung meningkat menjadi 70 unit di dua kelompok dengan 5 unit pompa hidram.

Sementara itu, Kepala BPTP Balitbangtan Bali, I Made Rai Yasa, mengatakan bahwa tahun 2018 merupakan tahun ke empat kegiatan MPBI dilaksanakan.

"Sekarang kami tinggal memantapkan lagi model usaha tani yang telah kita bangun. Paket-paket inovasi teknologi sudah diadopsi dengan baik oleh petani di lokasi MPBI, kami berharap, model seperti ini berkembang lagi di lokasi yang memiliki potensi, permasalahan, dan agroekosistem yang sama," tuturnya menjelaskan.

rilis.id


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau