Pengembangan Sapi Belgian Blue Tak Cocok pada Peternak Lokal

Ekonomi | DiLihat : 270 | Kamis, 01 Maret 2018 | 10:37
Pengembangan Sapi Belgian Blue Tak Cocok pada Peternak Lokal

Jakarta - Pengembangan sapi Belgian Blue melalui skema transfer embrio (TE) dan inseminasi buatan (IB) oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai tidak bisa diaplikasikan pada peternak lokal. Sebab, jenis sapi yang dikembangbiakan di peternakan lokal merupakan sapi dengan bobot yang kecil.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengatakan, di seluruh dunia, pengembangan sapi di tingkat peternak melalui mekanisme TE dan IB masih menggunakan sapi jenis Limosin dan Simental. Sedangkan dengan jenis Belgian Blue belum pernah dilakukan.

"Kalau kata ahli genetik, jika Belgian Blue itu sapi jenis unggul yang bisa dijadikan alternatif sumber daging secara maksimal, tapi di dunia itu tidak dipakai. Yang dipakai itu Limosin dan Simental. Jadi Belgian Blue ini masih skala laboratorium, belum skala komersial. Kalau bisa skala komersial, kenapa tidak diterapkan di dunia," dikutip dari Liputan6.com di Jakarta, Rabu (28/2/2018).
Oleh sebab itu, lanjut dia, jika memang pengembangan jenis sapi tersebut dilakukan agar bisa diaplikasikan di peternak rakyat, maka harus memperhatikan sejumlah hal. Seperti soal pakan ternak yang dibutuhkan untuk sapi jenis Belgian Blue.

?"Oleh sebab sekarang masih skala laboratorium. Sebab kalau diproduksi massal, apakah dia masuk dengan manajemen peternakan rakyat. Apakah peternakan rakyat bisa memberikan pakan seperti di laboratorium. Kita tahun kan pakan di kita kualitasnya rendah, beda dengan di barat. Kalau di barat rumputnya mengandung leguminosa yang tinggi, kita tidak. Karena curah hujan tinggi sehingga kualitas hijauannya rendah," kata dia.

Selain itu, kata Rochadi, dalam mengembangkan sektor peternakan di dalam negeri, pemerintah harus mengajak serta peternak lokal di dalamnya. Dengan demikian, pengembangan sektor peternakan bisa diterapkan di peternak.

"Jangan sampai dikasih ke rakyat mati semua sapinya. Karena memang sapi yang hitech, memerlukan sentuhan teknologi, pendekatan teknologi. Tidak bisa sapi hasil produk teknologi dipelihara rakyat jelata yang banyak diberikan protein di bawah 10 persen, dia harus 17 persen. Hal-hal seperti ini harus jadi pertimbangan," tandas dia.

Terlalu Mahal

Sebelumnya, sumber Liputan6.com mengatakan bahwa harga sperma sapi Belgian Blue mencapai Rp 450 ribu per suntikan. Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan harga sperma sapi lokal yang di bawah Rp 10 ribu per suntikan.

"Ini kenapa kok membuat tender semahal itu, terlalu mahal kalau satu suntikan itu Rp 450 ribu. Sedangkan lokalan di bawah Rp 10 ribu per suntikan. Kita sudah punya pabrik semen (sperma) di tiga tempat, Ungaran, Singosari, Lembang, jual ke rakyat paling mahal Rp 10 ribu per suntikan," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Minggu (25/2/2018).

Selain sperma, harga embrio sapi Belgian Blue juga dinilai terlalu mahal. Sebab, untuk satu embrio harganya mencapai Rp 9,9 juta.

"Embrio juga harganya Rp 9,9 juta. Itu beli 1.000 embrio, jadi Rp 9,9 miliar. Sekarang embrio ini mau ditanamkan ke sapi yang mana," kata dia.

Sumber itu juga mengungkapkan, dengan harga semahal itu, maka tidak bisa diterapkan oleh peternak lokal. Oleh sebab itu, program ini hanya akan membuang anggaran saja.

?"Sapi belgian Blue itu akan dikembangkan di Indonesia. Tapi dengan harga segitu ke peternak ya terlalu mahal. Ini harus dicari tahu kenapa pemerintah pengadaannya senilai itu. Padahal ada yang harganya lebih murah. Ini buang-buang anggaran," jelas dia.

Sementara itu, ?Kepala Badan Embrio Ternak (BET) Cipelang, Oloan Parlindungan mengakui harga sperma sapi Belgian Blue memang mencapai Rp 450 ribu.

"Sperma Belgian Blue impor harganya Rp 450 ribu. Kalau sperma produksi dalam negeri di pasaran hanya Rp 7.000," kata dia.

Meski mahal, embrio dan sperma sapi Belgian Blue yang ditengah dikembangkan akan menghasilkan sapi yang lebih baik dan bobot yang besar. Sebab bobot sapi tersebut bisa mencapai 1,5 ton-2 ton, jauh di atas sapi-sapi lokal yang berkisar 600 ton-800 ton.

liputan6