Teknologi Pembenihan Ikan Ini Mampu Naikkan Produktivitas 100 Kali Lipat

Inovasi Desa | DiLihat : 456 | Kamis, 22 Februari 2018 10:16
Teknologi Pembenihan Ikan Ini Mampu Naikkan Produktivitas 100 Kali Lipat

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meninjau unit pembenihan rakyat (UPR) di Desa Wisata Bokasen, Cangkringan, Sleman. Dia menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pengembangan kawasan perikanan budidaya khususnya peran pemberdayaan masyarakat yang dilakukan kelompok pembudidaya ikan Mina Ngremboko. Dia juga menilai kawasan itu layak menjadi percontohan pengembangan ekonomi lokal bagi daerah lain.

"Kawasan Mina Ngremboko menjadi potret keberhasilan pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis perikanan budidaya dan patut menjadi contoh bagi daerah lain. Jadi kegiatan ekonomi seperti inilah yang harus tumbuh, bukan di mal-mal," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (20/2/2018).

Menurut dia, kebutuhan ikan akan terus meningkat sejalan dengan konsumsi ikan masyarakat yang naik, yakni dari 36 kg per kapita per tahun menjadi 43 kg per kapita per tahun pada 2017. Untuk itu, subsektor budi daya akan terus didorong dalam menyuplai kebutuhan pangan berbasis ikan.

Salah satu upaya KKP menggenjot produksi adalah dengan membangun UPR teknologi pembenihan intensif sistem resirculating aquaculture system (RAS).

Untuk diketahui, RAS merupakan sistem budi daya ikan secara intensif dengan menggunakan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus-menerus (resirkulasi air), seperti fisika filter, biologi filter, UV, oksigen generator untuk mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan ikan, mengurangi jumlah penggunaan air, dan meningkatkan tingkat kelulushidupan ikan. Prinsip dasar RAS adalah memanfaatkan air media pemeliharaan secara berulang-ulang dengan mengendalikan beberapa indikator kualitas air agar tetap pada kondisi prima.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyebutkan keunggulan sistem RAS jika dibandingkan dengan sistem konvensional adalah mampu menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi. Padat tebar ikan nila pada RAS mampu digenjot hingga 5.000 ekor per m3, sedangkan padat tebar pada sistem konvensional hanya 50 ekor per m3.

"Artinya, dengan penerapan system RAS ini, produktivitas bisa digenjot hingga 100 kali lipat dibanding dengan sistem konvensional," ujarnya

Kelebihan lainnya, lanjut dia, budi daya dengan sistem ini sangat menghemat penggunaan air dan dapat dilakukan pada areal yang terbatas. Di samping itu, penggunaan teknologi RAS akan memberikan jalan keluar atas tantangan perikanan budi daya, seperti perubahan iklim dan kualitas lingkungan.

Saptono, Ketua Kelompok Mina Ngremboko, mengatakan sistem RAS mampu menaikkan produktivitas benih secara signifikan. Dia menuturkan sistem RAS yang diberikan KKP dirancang untuk memproduksi benih nila ukuran 5-7 cm minimal 108.000 ekor per bulan dengan padat tebar per kolam sebanyak 30.000 ekor.

"Secara ekonomi, dengan pengelolaan sistem RAS sebanyak 4 kolam, kami menargetkan pendapatan minimal Rp9,2 juta per bulan atau Rp91,8 juta per tahun," kata Saptono.

Sementara itu, inovasi teknologi baru microbubble technology juga diperkenalkan. Inovator dari UGM, Rustadi, menjelaskan prinsip microbubble sama dengan aerasi. Hanya, selain ukuran yang lebih besar, teknologi ini mampu menghasilkan gelembung udara yang lebih kecil (mikro) sehingga ketersediaan oksigen yang terlarut dalam air lebih stabil dan tahan lama.

Keuntungan lain teknologi itu dibandingkan dengan konvensional adalah waktu lebih cepat satu bulan dengan padat tebar tinggi 15-25 ekor per m3, produktivitas lebih tinggi 40% (600 kg per 100 m3), lebih tahan penyakit, hemat penggunaan air, penggunaan pakan lebih efisien (FCR 1:3), pertumbuhan lebih cepat, dan ikan lebih seragam.

"Tahun ini rencana komersialisasi yang akan kerja sama dengam swasta. Karena cost produksi tidak terlalu tinggi, kami menargetkan nantinya para pembudi daya di Indonesia bisa memanfaatkan teknologi ini," ujar Rustadi.

bisnis



PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau