Desa Labuhan Didorong Jadi Kampung Iklim Pertama di Madura

Potensi Desa | DiLihat : 432 | Kamis, 26 Oktober 2017 10:34
Desa Labuhan Didorong Jadi Kampung Iklim Pertama di Madura

BANGKALAN, MADURA – Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, didorong untuk menjadi desa pertama di Madura yang terlibat dalam Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Desa Labuhan saat ini merupakan desa binaan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Desa ini berhasil melakukan konservasi  dan rehabilitasi kawasan mangrove. Keberhasilan ini menjadi pendukung Desa Labuhan berpartisipasi dalam gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, Diah Susilowati mengatakan, pihaknya mendorong Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk mengusulkan Desa Labuhan menjadi desa atau kampung iklim.

"Kawasan mangrove lebih efektif sekitar 5 persen dalam menyerap emisi karbon dibandingkan kawasan hutan lain," kata dia saat "Sosialisasi dan Penyuluhan Lingkungan di Taman Pendidikan Mangrove (TPM), Labuhan Bangkalan, Jatim, melalui siaran pers, Rabu (25/10/2017).

Dia mengatakan di dalam Kampung Iklim, warga diberdayakan secara ekonomi dengan mengedepankan aspek lingkungan, seperti penanaman mangrove yang telah dilakukan warga Labuhan.  

Selain itu, pengelolaan sampah didorong menjadi biogas, membentuk embung (waduk) guna meningkatkan cadangan air, atau peningkatan kapasitas warga sekitar  agar berupaya menjaga lingkungan dan kebersihan.

"Apabila sudah masuk Proklim, sumbangan suatu desa terhadap pengurangan efek GRK bisa dihitung dengan pasti,” katanya.

Selama ini, tutur dia, belum ada satu desa pun di Madura yang mendapat status kampung iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Bahkan untuk level provinsi saja baru ada beberapa seperti desa di Bojonegoro, Blitar dan Malang. "Mekanismenya diusulkan dari daerah, lalu pusat yang menilai dan memutuskan," kata dia.

Prolim sendiri merupakan gerakan nasional yang diluncurkan pada Desember 2016, walau program ini sudah berjalan sejak 2012.  

Kriteria lokasi Proklim juga diperluas mencakup wilayah yang masyarakatnya telah melakukan upaya adaptasi dan mitigasi secara berkesinambungan, seperti komunitas pondok pesantren, perguruan tinggi, dan lain-lain.

Hal ini juga sebagai wujud pelaksanaan Perjanjian Paris dimana Pemerintah RI telah meratifikasinya menjadi Undang-Undang No 16 Tahun 2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim.

General Manajer (GM) PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) Kuncoro Kukuh mengatakan PHE WMO berkomitmen untuk mendukung pembentuan Proklim di Labuhan.

Dia mengatakan bahwa perusahaan selalu mendukung pembentukan Proklim di Desa Labuhan dengan membangun Taman Pendidikan Mangrove (TPM).  

Penanaman mangrove dan cemara laut di Desa Labuhan telah menghasilkan 839,24 ton CO2eq serapan karbon per tahun.

Menurut dia, secara keseluruhan, pengelolaan area konservasi mangrove di Labuhan ini sudah sangat bagus. Tapi, kegiatan kampanye agar semua pihak menjaga kelestarian hutan mangrove ini perlu terus digalakkan.

"Salah satunya, mengingatkan bahaya sampah pagi pohon mangrove. Diharapkan program mangrove akan bermanfaat tidak hanya warga sekitar tapi masyarakat umum. Mangrove juga tidak hanya cegah abrasi api juga bernilai ekonomi dan pariwisata," kata dia.

Taman Pendidikan Mangrove bekerja sama dengan 13 perguruan tinggi di Indonesia dalam pengembangan riset mangrove seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Trunojoyo, dan Universitas Trisakti Jakarta.

Saat ini Taman Pendidikan Mangrove telah berkembang menjadi sentra pemeliharaan lingkungan, sosial, maupun ekonomi masyarakat sekitar.

"Kehadiran TPM sangat membantu masyarakat sekitar. Sekarang masyarakat sadar bahwa lingkungan harus dijaga. Selain itu, masyarakat telah merasakan manfaat ekonomi dari terpeliharanya ekosistem mangrove,” tutur Sekretaris Kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera, Sjahrir.

Menurut salah satu local hero Pertamina itu, pembinaan lingkungan mangrove secara langsung mengajarkan masyarakat untuk kreatif memanfaatkan potensi ekonomi sekitar.

Dia menyebut saat ini masyarakat sudah ada yang mengembangkan kopi Labuhan, yakni produk kopi lokal yang dicampur dengan biji mangrove.  Selain itu, berkembang pula budidaya kepiting soka dan pepaya celini.

kompas.com



PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau

Video Terbaru

Video Playlist +