Bahan Bakar Tinja

Kabar Desa | DiLihat : 557 | Kamis, 4 Mei 2017 12:05
Bahan Bakar Tinja

Siapa bilang tinja tidak berguna? Menjadikan tinja sebagai pupuk itu sudah kuno. Riset terbaru memperlihatkan mengapa tinja berpotensi menjadi sumber energi alternatif. Prosesnya cepat, bahan bakarnya berlimpah. Walau dalam skala kecil, di Indonesia tinja sudah digunakan sebagai sumber bahan bakar.

tirto.id - “Tinja itu memang sampah, tapi tinja itu anugerah kehidupan yang amat sangat berharga. Sama berharganya dengan anugerah kehidupan kepada manusia berupa sains, kesenian dan filsafat. Tinja adalah kebudayaan yang masih tetap dianaktirikan sampai sekarang.”

Kalimat muncul dalam dialog antara Salim dengan Siti dalam buku Opera Sembelit (1998) yang ditulis Nano Riantiarno. Dialog dalam naskah di atas menyiratkan tak ada yang sia-sia, semua bermanfaat, termasuk tinja sekalipun.

Hal serupa dipikirkan para ilmuwan di US Department of Energy Pacific Northwest National Laboratory (PNNL). Mereka tak mau menyia-nyiakan kotoran manusia yang dikelola instansi pengelola limbah di negeri Paman Sam yang tiap harinya menangani kurang lebih 34 juta galon tinja.

PNNL berusaha mencari cara bagaimana mengubah jutaan galon tinja tersebut menjadi bahan bakar. Menurut perhitungan PNNL, dengan jumlah tinja sebesar kurang lebih 34 juta galon per hari, maka apabila diolah akan menghasilkan kurang lebih 30 juta barel minyak setiap tahunnya. PNNL memperkirakan bahwa satu orang bisa menghasilkan 2-3 galon biocrude per tahun.

Keinginan para ilmuwan PNNL ini memang tidak mudah, karena selama ini kotoran manusia, khususnya lumpur tinja (tinja yang sudah diaduk) dianggap bahan yang jelek untuk diubah menjadi biofuel karena sifatnya yang terlalu basah. Namun, para ilmuwan justru melihat masa depan yang menjanjikan dari tinja. Apalagi, sebelumnya, banyak penelitian lain yang mempelajari cara mengubah tinja menjadi metana, sebuah komponen pada gas alam. Para ilmuwan dari Stanford juga telah menciptakan baterai bertenaga mikrobio dari tinja pada 2013.

Karena itu, PNNL mempelajari bagaimana cara mengolah tinja tanpa melalui proses pengeringan terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan karena pada umumnya penggunaan teknologi thermal (teknologi pemanasan) membutuhkan energi yang banyak serta memerlukan biaya cukup mahal.

Usaha para ilmuwan PNNL ini membuahkan hasil. Mereka menemukan cara baru mengubah tinja menjadi minyak mentah yang mereka sebut biocrude. Penemuan mereka membuat sistem hydrothermal liquefaction (HTL) bekerja menirukan proses geologi bumi dalam membentuk minyak mentah. Dengan menggunakan tekanan dan suhu yang sangat tinggi, hanya dalam beberapa menit saja dapat menyamai proses alami pembentukan minyak mentah yang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun.

Material yang dihasilkan mirip seperti minyak mentah yang dipompa dari dalam bumi, namun dengan sedikit campuran air dan oksigen. Biocrude ini kemudian disempurnakan dengan menggunakan operasi penyulingan minyak bumi konvensional.

Dengan menggunakan sistem HTL ini, bahan organik seperti limbah manusia dapat dipecah menjadi senyawa kimia yang lebih sederhana. Bahan ini diberi tekanan hingga 3.000 pon per inci persegi - hampir seratus kali lipat dari ban mobil.

Setelah diberi tekanan, kemudian bahan yang sudah berbentuk lumpur tadi dialirkan ke dalam sebuah reaktor yang dioperasikan dengan suhu 660 derajat fahrenheit. Pemanasan dan pemberian tekanan tadi akan membuat sel-sel limbah terpecah menjadi beberapa bagian, biocrude dan bagian yang berbentuk cairan.

Selain menghasilkan bahan bakar yang bermanfaat, sistem HTL yang dikembangkan PNNL ini juga dapat mendukung penghematan bagi pemerintah lokal untuk penanganan limbah tinja, transportasi dan pembuangan.Proyek Percontohan

Hasil temuan ilmuwan TNNL tersebut memang belum komersial. Namun, jangan khawatir karena Ganifuel Corporation, perusahaan yang memegang lisensi teknologi ini akan segera membangun pabrik percontohan di Vancouver, Kanada. Proyek yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar kurang lebih 7 juta dolar Amerika.

Saat ini, Genifuel tengah menjalin kerja sama dengan Metro Vancouver yang telah bekerja sama dengan 23 pemerintah daerah di Inggris, Kolumbia, dan Kanada dalam pembangunan pabrik percontohan ini.

“Matreo vancouver berharap ini menjadi penanganan limbah cair pertama di Amerika Utara.” kata Darrel Mussatto,  ketua Metro Vancouver Komite Utilities, dilansir laman www.pnnl.gov, pada awal November ini.

Setelah dana tersedia, Metro Vancouver berencana pindah ke tahap desain pada 2017, diikuti oleh fabrikasi peralatan dengan start-up yang diperkirakan pada 2018. “Jika teknologi baru ini sukses, fasilitas produksi masa depan bisa memimpin jalan bagi operasi air limbah Metro Vancouver untuk memenuhi tujuan keberlanjutan energi bersih nol, nol bau dan nol residu,” tambah Mussatto.

Bagaimana dengan peluang di Indonesia?

Temuan ilmuwan TNNL tersebut tentu mengembirakan bagi banyak negara yang sedang giat-giatnya mencari energi alternatif, termasuk Indonesia.

Pada Februari 2016, peneliti di Laboratory of Electric Machinery, Department of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, Marwan Rosyadi, mengatakan energi fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam akan habis pada 2050 mendatang.

“Berdasarkan Global Wind Energy Council (GWEC), sebuah organisasi statistik turbin-turbin di dunia menjelaskan bahwa pada 2050 mendatang, tren di Eropa nanti akan menggunakan 100 persen sumber energi baru terbarukan untuk pasokan energi listrik,” ujarnya seperti dikutip Antara.

Menurut Marwan, penggunaan bahan bakar fosil untuk membangkitkan energi tidak selamanya bisa dilakukan, apalagi bahan bakar fosil merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga persediannya kian menipis. Karena itu, mau atau tidak mau, pemerintah Indonesia harus memikirkan jalan keluarnya.

Saat ini, pemerintah Joko Widodo cukup serius melirik energi baru terbarukan, seperti panas bumi, tenaga surya, energi angin, bahan bakar nabati (BNN), dan energi alternatif lainnya, termasuk biogas. Selain itu, pemerintah sedang menggalakkan program diversifikasi energi (bauran energi) dan menargetkan kontribusi energi terbarukan mencapai 25 persen pada tahun 2025.

Hasil penelitian PNNL yang menemukan cara baru mengubah tinja manusia menjadi biocrude adalah peluang emas bagi Indonesia. Mewujudkan hal tersebut memang tidak mudah, seperti halnya ketika pemerintah mendapat kendala untuk mengoptimalkan energi panas bumi dan surya.

Namun tak ada salahnya melirik tinja sebagai BBM masa depan, apalagi di sebagian daerah di Tanah Air ini telah memanfaatkan tinja sebagai energi alternatif, baik sebagai pembangkit listrik maupun untuk sekedar memasak.

Sumber : tirto.id