Mendes PDTT: Sinergi Lembaga Perbankan dan Investor Percepat Perekonomian Desa

Kabar Desa | DiLihat : 495 | Rabu, 12 April 2017 11:36
Mendes PDTT: Sinergi Lembaga Perbankan dan Investor Percepat Perekonomian Desa

Jakarta, NU Online
Upaya mengalang sinergi antarlini dalam proses pembangunan perdesaan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mulai membuahkan hasil. Lembaga keuangan, investor, dan masyarakat memberikan respons positif terhadap empat program unggulan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Hal ini terbukti pengucuran kredit usaha rakyat (KUR) untuk pembiayaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dari BRI dan beberapa lembaga keuangan milik BUMN. Selain itu investor juga ikut berperan serta dalam menstabilkan harga beberapa produk pascapanen di berbagai wilayah. Hubungan harmonis antarstake holder itu juga nampak dari berbagai komunikasi yang dibangun Mendes Eko bersama para mitra.

Keharmonisan itu salah satunya tampak dari hangatnya  pertemuan Menteri Eko dengan jajaran direksi BRI di kantor Kementerian Desa PDTT di Jakarta, Senin (9/4).

"Saya beruntung didatangi oleh Bapak Direktur Utama BRI dan Bapak direktur BRI. BRI selama ini proaktif sekali dalam menunjang program-program Kemendesa PDTT terutama pengelolaan bumdes dan produk unggulan Desa,” ujar Menteri Eko.

Dia menjelaskan dukungan dari lembaga keuangan seperti bank-bank BUMN sangat vital dalam percepatan pembangunan perdesaan. Menurutnya dukungan BRI dan bank-bank BUMN lain akan meningkatkan kepercayaan dan minat investor untuk menanamkan modal mereka di kawasan pedesaan. Para investor ini akan diarahkan untuk menyerap produksi pasca panen di desa-desa.

Dengan demikian warga desa yang sebagian besar merupakan petani akan mendapatkan harga layak bagi produk mereka. "Dukungan oleh Bank-bank BUMN terutama BRI juga akan memicu dukungan masuknya investor-investor yang akhirnya bisa menjamin penyerapan dari produksi pasca panen di desa-desa," kata Eko.

EPS, sapaan akrab Eko Putro Sandjojo, mengatakan peran lembaga keuangan juga sangat besar dalam upaya mewujudkan program Bumdes berkualitas dan terciptanya program produk unggulan kawasan desa (Prukades).  Kedua program tersebut diharapkan bisa menjadi motor ekonomi desa.

Menurutnya saat ini terdapat 26,8 persen desa memiliki potensi perkebunan, 12.827 desa memiliki potensi perikanan, 86,4 persen desa memiliki potensi energi terbarukan, 1,8 Juta Komoditas UMKM berada di Desa, 82,7 persen desa memiliki potensi pertanian, dan 1.902 Desa memiliki potensi  Desa Wisata.

“Apabila dari 74.910 Desa terbentuk 70.000 BUM Desa dan diasumsikan setiap BUM Desa memiliki profit minimal Rp 1 Miliar/Tahun, maka Total Profit yang dimiliki BUM Desa adalah Rp 70 Triliun/Tahun. Tentu ini potensi yang sangat besar,” jelas Eko.

Selain lembaga keuangan dan investor lanjut EPS respons positif dari program unggulan Kemendes PDTT juga ditunjukkan pemerintah daerah dan berbagai lapisan masyarakat desa. Menurutnya hal itu dirasakan saat dirinya berkunjung dan berkomunikasi dengan warga desa. "Kemarin saya baru dari Pandeglang, dari situ Bupati dan masyarakatnya sepakat memilih jagung sebagai produk unggulan mereka. Bahkan mereka bersedia menyediakan 200 ribu hektar lahan untuk jagung," tuturnya.

Sementara itu Direktur Utama BRI, Suprajarto, menyatakan komitmennya untuk bersama-sama mengembangkan potensi unggulan desa melalui Bumdes. Menurutnya Bumdes merupakan sarana yang tepat untuk memajukan perekonomian perdesaan.

“Percepatan perekonomian perdesaan bisa terwujud melalui pendirian Bumdes. Kami membuka diri untuk menyediakan KUR dalam mendorong percepatan pendirian Bumdes. Seluruh kantor BRI di pelosok desa siap membuka diri jika masyarakat memerlukan sumber pembiayaan,” katanya.

Dia mengatakan keikutsertaan BRI dalam program pembangunan desa ini diharapkan membuat desa-desa menjadi maju. Menurutnya, desa-desa di Indonesia lambat berkembang karena masyarakatnya banyak yang tidak mendapatkan lapangan pekerjaan karena minimnya infrastruktur dasar. Selain itu model ekonomi desa selama ini masih belum dikelola secara intensif.

“Dengan program unggulan dari Kemendes PDTT tersebut kami yakin persoalan – persoalan tersebut akan terurai dan ada harapan besar jika kesejahteraan masyarakat desa bisa segera terwujud,” katanya. (Red: Mahbib)

sumber : www.nu.or.id