Bukan di Sleman, Kebun Salak yang Lebat ini Ada di Kota Jakarta

Bukan di Sleman, Kebun Salak yang Lebat ini Ada di Kota Jakarta

Jakarta - Di tengah hiruk pikuk kemacetan dan belantara beton di ibu kota, masih ada lahan yang diperuntukkan untuk budi daya buah. 'Tersembunyi' di bilangan Condet, Jakarta memiliki kebun salak yang tak kalah lebat dari kebun-kebun di daerah yang menjadikan salak sebagai komoditas utama.

Sekitar 3.000 pohon salak berada di tengah Kota Jakarta, tepatnya di Jl. Kayu Manis RT 7 RW 5, Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Tidak hanya di Sleman, DIY, bahkan di Jakarta pun ada kebun salak seperti layaknya kebun salak di Sleman.

Pantauan detikcom di lokasi kebun salak terlihat tertata rapih, mulai dari pagar-pagar pembatas kebun dengan permukiman warga hingga area dalam kebun, seperti jalan setapak yang bersih tidak terlihat daun-daun berceceran, sampah di lokasi tidak terlihat, mushola dan aula di dalam kebun terlihat bersih, hingga pohon-pohon salak yang tertata rapi bak taman buah yang berada di dataran tinggi.

Kebun salak ini dijaga oleh enam orang dan yang paling lama berjaga, yaitu bang Asmawi (55). Bang Asmawi sejak kecil sudah berada di wilayah kebun salak ini hingga di tahun 2007 Pemprov DKI membebaskan tanah ini guna melestarikan kebun ini agar masyarakat tidak membuat rumah di tanah milik pemerintah ini. Putera asli Betawi ini tahu betul mengenai kebun salak ini.

"Emang dari dulu udah ada, dari gue kecil, gue melek juga udah ada. Babe gue dari kecil juga udah ada. Inikan dulunya kebun warga, kebun keluarga, karena dinas pemerintah berupaya supaya ini tidak hilang. Kalau ini masih d itangan warga kemungkinan sudah jadi kontrakan, udah banyak jadi perumahan," kata Asmawi kepada detikcom di lokasi, Rabu (12/7/2017)

Ia juga menambahkan dulu di tahun 80 jika kita memasuki kebun ini akan terasa dingin dan sejuk. "Tahun-tahun 80 kalo kita masuk sini itu udah kaya kulkas sangat adem sejuk. Saya dari kecil tinggal disini makanya tahu percis," tambah Asmawi.Menurut Asmawi, orang biasanya tidak akan menyangka di dalam Jakarta ada kebun salak yang cukup lebat.

"Di tengah-tengah kota masih banyak pepohonan seperti ini kan aneh, kalau Anda masuk sini kan terus foto foto kesannya seperti tidak di Jakarta. Coba saja foto pasti dikira di Sleman di kebun salaknya," kata Asmawi.

Sleman memang terkenal dengan komoditas salak pondohnya. Asmawi juga bercerita di tahun 90-an ia pernah berkunjung dua kali ke kebun salak Sleman untuk melakukan studi banding bersama Dinas Pertanian. Tidak hanya itu, di kebun salak Condet ini menghasilkan salak khas condet dengan 9 jenis salak.

"Inilah keragamannya, ada 9 paritas (9 jenis salak). Dulu saya pernah studi banding ke Sleman, lebih awal bahkan lebih dari 9 paritas kalo diteliti benar benar. Jadi keragaman ini yang membuat salak ini kita pertahankan dalam artian ke depan ada pembibitan, ada yang dicangkok seperti itu," kata Asmawi.

Asmawi bersama teman-temannya sebagai petugas penjaga kebun salak Condet ini berusaha agar salak yang dihasilkan dari kebun ini tidak bergantung pada musimnya. Mereka berusaha agar setiap saat salak yang dihasilkan selalu ada tidak hanya di bulan-bulan tertentu saja walaupun di musim hujan sekalipun.

"Kita berupaya salak itu kita coba supaya nggak ada musim tapi Alhamdulillah berhasil. Sekarang kalo kita lihat bulan September juga bakal ada lagi, Agustus juga udah ada lagi yang masak cuma nggak beberapa banyak," kata Asmawi.

Penjaga yang lain, Zainudin mengatakan mengelola salak di dalam Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Tingginya curah hujan bisa mengganggu mas panen.

"Salak kan baru tahun ini yang lumayan banyak dan sebagian ada yang kena penyakit, seperti busuk ya, karena kebanyakan hujan jadi nggak stabil. Bisa dikatakan misalnya panen satu kintal akhirnya jadinya 50 kg begitu," kata Zainudin penjaga kebun salak Condet.

detik.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :