Tantangan Dalam Perkembangan Pertanian Indonesia

  • Kategori Ekonomi --
  • Kamis, 15 Februari 2018 08:00
Tantangan Dalam Perkembangan Pertanian Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani. Pertanian mengandung konteks yang luas, tidak sekedar bercocok tanam di suatu lahan, tetapi juga menyangkut perikanan, peternakan, kehutanan, dan sebagainya. Namun permasalahan yang dihadapi sektor pertanian sangat krusial karena menyangkut urusan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Pertanian seperti tercantum dalam UU Republik Indonesia No. 19 Tahun 2013 didefinisikan sebagai kegiatan mengelola sumber daya alam hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk menghasilkan komoditas pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu agroekosistem. Sedangkan usaha tani adalah kegiatan dalam bidang pertanian, mulai dari sarana produksi, produksi/budi daya, penanganan pascapanen, pengolahan, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang. Berikut akan dijelaskan 3 tantangan yang umum dihadapi sektor pertanian Indonesia:


1. Keterbatasan pemilikan lahan

Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013 tercatat luas kepemilikan lahan maksimal yang dikuasai petani sebesar 0,8 hektar. Persentase tertinggi tercatat ada di provinsi Riau dan Kalimantan Tengah dengan sebagian besar komoditas yang dibudidayakan adalah kelapa sawit. Terjadi peningkatan dari tahun 2003 yang tadinya hanya seluas 0,4 hektar.
Sempitnya penguasaan lahan ini mengakibatkan ruang kerja petani untuk memanfaatkan lahannya menjadi terbatas, terutama bagi petani sawah. Tingginya jumlah petani gurem tidak diimbangi dengan luas lahan yang sesuai justru menyebabkan produktivitas menjadi rendah. Bahkan Indonesia saat ini masih tertinggal dari Thailand dan tingkkat mekanisasi pertanian bangsa kita juga masih rendah. Hal ini terbukti dari masih banyaknya petani yang bercocok tanam secara tradisional dan rendahnya pengetahuan petani terhadap isu pertanian terbaru serta pemecahan masalah pertanian.


2. Perubahan iklim 

Salah satu faktor yang krusial dalam usaha pertanian adalah iklim dan cuaca. Saat ini isu lingkungan yang sering disuarakan adalah mengenai pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim. Tidak tanggung-tanggung, sejumlah akibat dari pemanasan global sudah dirasakan. Misalnya, bencana alam seperti badai, tornado, banjir bandang, tsunami yang muncul lebih sering. Terjadi pergeseran kalender musim hujan dan musim kemarau. Suhu ekstrim saat musim panas dan intensitas hujan yang tinggi saat musim hujan tentu memengaruhi kegiatan tani. Apalagi komoditas padi masih diandalkan oleh masyarakat dan dampak dari perubahan iklim memengaruhi kalender musim tanam. Hama dan penyakit baru akan muncul lebih banyak dan sebarannya semakin luas karena suhu dan kelembaban udara yang sesuai untuk perkembangbiakan mereka. Ini menjadi masalah penting bagi petani karena akan memengaruhi produksi nantinya.


Perubahan yang tidak menentu ini berimbas pada produksi beras nasional yang tidak mengikuti tingkat permintaan dan kualitas beras pun terganggu saat musim penghujan. Dampak lanjutannya adalah pemerintah terpaksa mengimpor beras ke negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam. Impor beras yang dilakukan terus-menerus akan mengancam petani lokal, terutama petani gurem. Selain harga beras yang tinggi walaupun saat ini sudah ditetapkan kebijakan HET (Harga Eceran Tertinggi), tetap saja petani Indonesia semakin terhambat untuk mengembangkan usaha taninya karena ada ancaman tersebut.


3. Harga pangan global

Pada bulan Agustus 2017 tercatat penurunan sebesar 1,3% harga pangan dunia menurut FAO (Food and Agriculture Organization) yang pada tiga bulan sebelumnya terjadi kenaikan harga. Dilansir dari Tempo, penurunan harga global ini dipengaruhi penurunan harga sereal yang terjadi akibat panen yang sangat besar. Sedangkan produksi beras global di tahun ini diperkirakan akan menyentuh rekor tertinggi. Dari sektor perkebunan, yaitu kelapa sawit menyumbang harga minyak sayur yang naik sebesar 2,5%. Menurut Ema Maria Lokollo, era perdagangan bebas seperti sekarang ini menunjukkan adanya integrasi antara pasar domestik dan pasar dunia. Hal ini membawa konsekuensi pada keterkaitan antara harga komoditas pertanian di pasar dunia dengan harga domestik. Oleh karena itu dinamika harga komoditas pertanian yang terjadi di pasar domestik tidak lepas dari kebijakan perdagangan termasuk di dalamnya kebijakan harga yang diambil pemerintah. Kebijakan harga komoditas pertanian dapat diambil melalui dua cara, yaitu kebijakan harga input atau sarana produksi dan kebijakan harga output.

kumparan

 

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :