Panen Padi Nasional Pada Januari 2018 Menghasilkan 2,83 Juta Ton Beras

  • Kategori Ekonomi --
  • Rabu, 14 Februari 2018 14:23
Panen Padi Nasional Pada Januari 2018 Menghasilkan 2,83 Juta Ton Beras

Jakarta – Panen padi nasional pada Januari 2018 sebesar 854.000 hektare dengan hasil 4,51 juta ton GKG. Produksi itu setara dengan 2,83 juta ton beras, sehingga surplus 329 ribu ton bila dibandingkan untuk kebutuhan konsumsi yang hanya sebesar 2,5 juta ton.

Terkait dengan panen padi nasional terebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa Kementan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 7 miliar guna memborong gabah petani di Sukabumi. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi harga gabah yang rendah di tingkat petani.

“Kasihan petani. Makanya saya instruksikan Tim Sergap seperti Bulog dan BRI untuk membeli gabah petani,” ujar Amran usai panen raya di Sukabumi, Selasa (6/2/2018).”Setelah ini tidak boleh lagi ada harga gabah di bawah Rp 3.800. Ini sudah terlalu rendah. Nanti juga saya akan laporkan secepatnya ke Presiden,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementan, Suwandi mengatakan bahwa puncak panen raya adalah pada bulan Maret yag akan mencapai 2,25 juta hektare (ha).

“Untuk diketahui panen pada Februari ini di Jawa Tengah seluas 335 ribu ha dan di Jawa Timur 235 ribu ha. Secara nasional total panen Februari 1,65 juta ha dan puncak panen raya pada Maret mencapai 2,25 juta ha,” kata Suwandi dalam rilisnya.

Menurut Suwandi, saat ini Tim Serap Gabah Petani (Sergap) bersama Bulog gencar menyerap gabah petani agar harga tidak jatuh. Gudang-gudang Bulog akan diisi dari beras petani dengan target minimal 2,2 juta ton pada panen raya.

Di tempat terpisah Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih mengatakan bahwa anjloknya harga gabah petani yang ini dipengaruhi oleh dua faktor yakni: impor beras dan panen raya. Jadi kala panen naik dan impor masuk, harga beras dan padi (gabah) turun. Jadi ini soal timing saja,” jelas Bungaran.

Problem sesungguhnya, menurut Bungaran adalah kebanyakan petani menjual gabah, bukan beras. Sehingga ketika terjadi panen raya sementara impor belum sepenuhnya masuk, menjadi dalih pedagang atau perusahaan penggilingan padi untuk tidak buru-buru membeli gabah petani.

“Namanya pedagang kan pasti hitung untung rugi. Makanya kita jangan andalkan pedagang tapi pemerintah harus terlibat masuk ke dalamnya. Bulog ini walau sendirian dengan stok di bawah 10 persen saja sebenarnya sudah bisa berpengaruh ke harga,” katanya.

Cara pedagang yang menunggu timing ini pula, yang menurutnya, menjadi penyebab gabah anjlok. Sementara di sisi lain harga beras penurunannya tidak terlalu signifikan. (Banyu)

nusantaranews

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :