Membangun Industri Kopi Sumbar Lewat Sinergi Anak Muda

Membangun Industri Kopi Sumbar Lewat Sinergi Anak Muda

PADANG - Industri kopi di Sumatera Barat terus membangun dari sisi hulu dan juga hilir, untuk saling mendukung satu sama lain. Disebutnya Brand kopi dari Solok (Sumatera Barat) dalam satu adegan di film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) menjadi bukti industri kopi Sumbar menjalin sinergi di kalangan anak muda.

Kerja sama apik berhasil dikembangkan antara koperasi petani kopi di hulu dengan pengusaha warung kopi modern di ujung hilir industri. Mereka sengaja fokus melayani langsung untuk end user demi harga jual lebih baik. Salah satu pengurus Koperasi Solok Radjo Teuku Firmansyah merupakan anak muda berusia 32 tahun dari Solok, Sumbar. 

Koperasi tersebut berada di Aie Dingin, Solok, mengurusi produksi dan pemasaran green bean alias biji kopi. Teuku bercerita semua berawal dari aktivitas di komunitas sejak 2012. Kesibukan mereka kemudian dikukuhkan sebagai koperasi. Peran koperasi ini sangat strategis untuk menghidupkan industri kopi di Sumbar yang telah lama tertidur. 

Jejak kopi Sumbar sudah dimulai sedari dulu. Bahkan dari literatur sejarah yang dibaca oleh Teuku, pada abad 18 tercatat kapal dagang dari Amerika sudah datang ke Sumbar demi membeli biji kopi. “Namun wawasan pengolahan kopi masyarakat rendah. Ditambah harga kopi yang masih rendah hingga tahun 2000 ke atas. Ini yang membuat masyarakat dulu banyak menebang tanaman kopinya,” ujar Teuku saat dijumpai di Rumah Kreatif BUMN milik BNI di Padang.

Dia menambahkan, salah satu area kebun kopi di Sumbar berada di dataran tinggi Solok dan juga tersebar di lima kecamatan lainnya seperti daerah Payakumbuh, Solok Selatan, Pasaman, dan daerah Agam di kaki gunung Singgalang. Arabika dan Robusta merupakan jenis yang paling banyak ditanam pedati dengan Dharmasraya dikenal sebagai pemasok Robusta. 

Lebih lanjut Ia mengungkapkan, permintaan kopi, baik arabika dan robusta mengalami kenaikan yang juga diiringi lompatan harga. Saat ini lanjutnya produksi maksimal biji kopi arabika dari daerah Solok mampu mencapai 15 ton setiap tahunnya. Soal penjualan strategi pilihan yakni memasok untuk end user atau menggandeng pemilik gerai coffee shop.

Setidaknya terdapat lebih dari 10 mitra di Sumbar dan lebih dari 20 mitra untuk daerah lain di luar Sumbar. “Mereka ini yang rutin mendukung kami. Sekarang kami batasi menerima permintaan baru karena memprioritaskan yang sejak awal ikut bantu membangun,” tambahnya.

Salah satu bukti hubungan erat dengan kedai kopi ialah saat nama Kopi Solok muncul di adegan film AADC 2. Munculnya nama Kopi Solok tersebut disebutnya sebagai bentuk apresiasi rekan-rekan di Klinik Kopi yang menjadi pembeli kopi mereka. “Kami tidak bayar untuk promosi itu, hanya apresiasi Klinik Kopi saja karena rasanya unik lalu direkomendasikan oleh mereka,” ujarnya.

Tantangan menghidupkan industri kopi di Sumbar menurutnya membutuhkan bantuan semua pihak. Ketika jumlah pengusaha kedai kopi yang masih sangat sedikit di Sumbar. Peran kedai kopi lokal sangat penting untuk menyerap hasil biji kopi dan mengedukasi masyarakat tentang industri kopi. 

Selain itu juga dibutuhkan pengadaan bibit yang berkualitas untuk petani. Selama ini petani kerap mencari bibit hingga Medan atau Jambi yang jelas merepotkan. “Petani juga membutuhkan pinjaman lunak dari perbankan atau pemerintah. Selama ini mereka hanya menggunakan modal sendiri saja,” ujarnya.

Sementara itu salah satu pengusaha kedai kopi di Padang, Fajri Jumaiza (23 tahun) mengusung brand kedainya Dua Pintu Coffee sejak 2015 lalu. Berawal dari program wirausaha di kampusnya Universitas Andalas dengan modal sekitar Rp25 juta, kini Ia mampu menghasilkan omzet Rp30 juta per bulannya. 

"Ciri khas Kopi Solok rasanya yang asam seperti lemon dan rempah yang terasa. Pelanggan saya  mayoritas penikmat Kopi Solok. Bahkan justru rugi kalau saya banyak membeli kopi dari luar Sumbar, karena peminatnya sedikit,” ujar Fajri yang juga berasal dari Solok.

Dia juga melakukan kolaborasi dengan Koperasi Solok Radjo untuk meningkatkan brand awareness kopi lokal. Di kedainya menyediakan ruang pamer atau showcase beberapa produk dari koperasi. Para pengunjung mendapat layanan untuk membeli produk dalam porsi sedikit. Sedangkan pembelian langsung ke koperasi hanya melayani apabila di atas 10kg. “Sinergi kami ini dengan nama Radjo Project. Pembeli yang ingin mencoba produk bisa datang ke kedai kami. Bahkan mereka bisa membeli campuran dari beberapa varian rasa. Ini bermanfaat juga untuk pedagang kopi skala kecil yang lain,” jelasnya.

Pameran Kuliner yang digelar BNI pekan lalu berada di lingkungan RKB BNI di Kantor Pos Padang. Menteri BUMN RI juga menyempatkan diri menyaksikan demo cara Pengolahan Masakan Rendang oleh Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sekaligus Menyicipi Masakan Khas Sumatera Barat tersebut. Pada Pameran Kuliner tersebut BNI mengajak sebanyak 13 pengusaha makanan dari Padang dan kota-kota di Sumatera Barat lainnya. Pameran ini turut menyemarakan Hari Pers Nasional 2018. (akr)

sindonews

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :