Petani: Profesi yang Dikhawatirkan Punah

  • Kategori Ekonomi --
  • Kamis, 12 Oktober 2017 10:05
Petani: Profesi yang Dikhawatirkan Punah

Saya Fajri, 27 tahun. Petani cabai rawit yang sedang was-was terhadap pergantian musim. Oktober adalah masa transisi dari musim panas menuju musim yang paling mengkhawatirkan bagi kaum jomblo Indonesia: musim hujan. Dingin, Bos.

Bagi petani cabai rawit, musim hujan bisa jadi rahmat dan malapetaka. Saya sedang menulis ini ketika Padang, kota tempat saya tinggal sedang diguyur hujan lebat. Ia menjadi rahmat ketika kamu tidak perlu capek menyiram tanaman. Bahaya datang ketika irigasi di ladang tidak dirancang untuk siaga terhadap perubahan musim. Walhasil, air menggenangi rumpun cabai. Si cabai kedinginan, beku dan meregang nyawa. Ini seriusan lho, tanya saja sama tetanggamu yang sudah pengalaman soal bercocok tanam, khususnya tanaman cabai-cabaian.

Baru-baru ini, Lembaga pusat Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kependudukan telah merilis survei tentang penurunan jumlah petani di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan tentang usia petani di Indonesia yang sudah 50-an dan sangat kecilnya minat generasi muda untuk turun ke sawah-ladang.

Saya memutuskan untuk nyemplung dalam aktivitas bercocok tanam bukan karena khawatir atas temuan LIPI tersebut. Sama sekali bukan. LIPI jangan ge-er, ya. Saya bertani untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya bahwa saya sedang menganggur.

Hal ini dibuktikan dengan tidak masuk akalnya pemasukan yang saya terima pada tiap kali panen. Jangankan untuk bertahan hidup dari hari ke hari, bahkan untuk membeli rokok yang per bungkusnya hanya sebelas ribu rupiah saja tidak tertutupi oleh hasil panen.

Total cabe rawit yang saya tanam berkisar antara 800 hingga 1000 batang. Separuhnya mati, sementara yang tumbuh hingga sekarang jumlahnya hanya sekitar 400-an batang. Itu pun sebagian mengalami penyakit; daunnya keriting. Saya sudah bertanya pada beberapa orang terkait hal ini. Di antaranya sama Bang Rustam.

“Bang, cabe rawit kalau daunnya keriting solusinya apa ya?” Saya bertanya kepada salah seorang pegiat pertanian, Rustam Efendi.

“Gampang, Ring. Direbonding saja,” kata dedengkot Serikat Pertanian Indonesia (SPI) Cabang Sumatera Barat itu. “Atau jangan-jangan cabe mewarisi gen rambut dari penanamnya, sehingga cabe yang kau tanam ikut keriting pula,” katanya menambahkan.

Mendengar jawabannya, saya berjanji tidak akan bertanya lagi soal tanam-menanam. Biar semua ahli pertanian di dunia ini nyungsep berkalang tanah dan yang tersisa hanya Bang Rustam, saya tetap tidak akan bertanya pada yang punya badan. Alih-alih memberi solusi, jawabannya malah membuat saya sakit gondok.

Pendapatan yang saya terima dari tiap panen yang berlangsung sekali dalam seminggu hanya mendekati angka 100 ribu rupiah. Ini mendekati lo ya. Bagaimana tidak, setiap panen, cabe yang dipetik jumlahnya berkisar antara 6-8 kilogram. Beberapa minggu terakhir, harga per kilogram cabe mentok di harga 25 ribu. Beberapa kali pernah jatuh ke harga 20 ribu. Silahkan dikalikan. Belum lagi biaya pupuk, potongan 20 persen untuk yang punya ladang, dan sisa rupiah tersebut dibagi dua pula dengan sejawat saya, Uda Ahmad Fadli.

Ladang yang luasnya hanya lebih besar sedikit saja dari rumah bersubsidi KPR tipe 36 itu memang saya garap berdua dengan Uda Fadli. Sangat tidak efisien sekali jika diukur dalam persepektif ekonomi. Biar saja, kan gotong royong. hehehe

Mungkin ada yang nyeletuk; terang aja lu dapat segitu, ladangnya kecil, digarap berdua lagi. Untuk komentar semacam ini, saya yakin dia belum pernah pegang pacul. Soalnya, jika masa lalu Anda berkutat soal buku, laptop, dan diskusi, maka memilih jalan sunyi dengan menjadi petani memang butuh waktu dan penyesuaian terhadap banyak hal.

Uda Fadil ikut membantu karena dia tak yakin ladang itu akan berhasil jika saya sendiri yang menggarapnya. Selain awam soal pertanian, pilihan tersebut dapat dibacanya sebagai pelarian saya belaka. Semacam celetukan dari orang yang baru bangun tidur: njleb, saya jadi petani sajalah. Begitu kira-kira.

Lalu, menyikapi pendapatan dari usaha tani yang menguras air mata itu, saya menghibur diri dengan apa yang telah ditulis oleh Emha Ainun Nadjib: apakah seratus ribu yang ada di kantong itu ‘hanya’ atau ‘alhamdulillah’?

 

Petani: Profesi yang Kecelakaan Belaka

 

Di kampung, petani muda yang saya temui mendaku memilih bercocok tanam karena sudah ‘habis main’. Ia merantau sekian tahun dan apa lacur, nasibnya tak membaik jua. Begitu juga halnya pada diri saya.

Sebelum menjadi petani, saya pernah menjajal berbagai pekerjaan dan membuat usaha rintisan sendiri. Di pertengahan tahun 2016, terbersit keinginan untuk mendirikan media daring. Alasannya sederhana, saya penulis dan beberapa tulisan sudah sering muncul di kolom opini harian lokal.

Media tersebut gulung tikar, bahkan sebelum sempat memasuki ulang tahunnya yang pertama. Belakangan saya baru menyadari, bahwa tidak cukup hanya mengandalkan kepandaian menulis saja dalam mendirikan media baru. Biarlah, hitung-hitung pengalaman. Pernahkah Anda memiliki usaha lalu usaha itu bangkrut? Pernah dong, Bos.

Berangkat dari situasi semacam itu lah saya putuskan untuk hijrah ke pertanian. Paling tidak untuk proses penyembuhan diri sendiri. Dari sekian banyak kegagalan yang kau inventaris di curriculum vitae hidupmu, ternyata ada cabe rawit yang prosesnya kau tunggui sejak dari awal tanam hingga berbuah lebat seperti sekarang. Bukankah itu menyehatkan?

 

Bertani Sebagai Pilihan yang Sadar?

 

Kalau Anda seorang pengangguran yang berasal dari lulusan universitas, berijazah, cukup intelek pada masanya, apakah berani mengambil jalur pertanian sebagai rintisan karir? Kalau saya sih, enggak. Sebab, saya tumbuh dengan imajinasi yang sama sekali lain dari lingkungan tempat saya tinggal. Meski sawah dan ladang membentang di kampung halaman, namun cita-cita punya jalannya sendiri. Saya membaca buku, menonton film dan mengimajinasikan hari depan sebagai sesuatu yang beyond dari lingkungan tempat saya tumbuh. Saya ingin jadi wartawan di harian nasional, ingin jadi mahasiswa yang disponsori beasiswa LPDP, dan jadi free thinkers yang kesemuanya itu tidak lagi berhubungan dengan urusan tanah dan tanam-menanam.

Jika saya yang berasal dari daerah yang termasuk sentral pertanian saja bisa begitu, lalu bagaimana dengan kawan-kawan yang besar di wilayah urban? Yang hanya melihat sawah dan ladang dari televisi?

Bahwa kemudian saya bertani karena tidak ada kerjaan lain, tentu tak bisa dijadikan patokan. Sebab, diam-diam imajinasi itu terus saya rawat. Bahkan setelah hampir setahun saya melakoni nasib sebagai petani.

Apakah semua imajinasi yang mungkin juga ada di kepala Anda itu bisa dipersalahkan karena minimnya regenerasi petani di Indonesia? Pertanyaan ini lebih baik dijawab oleh Kementerian Pertanian. (*)


kumparan.com   

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :