Urban Farming, Surabaya Panen Cabai Manfaatkan Lahan Sempit

Urban Farming, Surabaya Panen Cabai Manfaatkan Lahan Sempit

SURABAYA- Predikat sebagai kota jasa dan perdagangan yang ditandai pesatnya pertumbuhan dunia usaha, tidak membuat Surabaya melupakan sektor pertanian. Justru Surabaya punya ikhtiar kuat untuk memajukan potensi pertanian yang dimiliki. Oleh Pemerintah Kota Surabaya, potensi itu dimunculkan melalui program urban farming.

Masyarakat didorong untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan dengan menanam beragam tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, salah satunya adalah cabai. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menanam cabai di pekarangan rumah ataupun lahan kosong di lingkungan RW punya banyak manfaat. Selain manfaat ekonomis, aktivitas menanam dan merawat tanaman juga menyehatkan karena dibarengi dengan menyiram di pagi hari yang ibarat ‘berolahraga’

“Bila harga cabai mahal di Surabaya seperti beberapa waktu lalu, itu seharusnya tidak perlu terjadi bila kita mau menanam cabai sendiri. Itu terjadi karena kita ndak mau dan malas menanam sendiri. Kita harus bisa swasembada memenuhi kebutuhan sendiri, salah satunya cabai,” ungkapnya di sela kegiatan panen cabai urban farming di kebun lombok RW 07 Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Rabu (13/9).

Risma menuturkan, terkadang warga kurang bersyukur karena menelantarkan lahan. Kalaupun lahannya sempit, selama bisa dioptimalkan tentu akan menghasilkan. “Tuhan telah memberi kita iklim yang memungkinkan untuk mudah menanam apa saja. Dan bertanam ini salah satu bentuk syukur,” imbuhnya. Lingkungan RW 07 Kelurahan Kedung Baruk menjadi salah satu wilayah di Surabaya yang telah berhasil menghasilkan cabai dari pertanian urban farming.

Selain Kelurahan Kedung Baruk, wilayah lainnya yang juga berhasil menghasilkan cabai urban farming adalah Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo dan Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir. Ketua RW 07 Kelurahan Kedungbaruk Bramasta mengatakan, warganya giat menanam cabai setelah dipasok ratusan bibit oleh pemkot. Menurutnya, ada 350 bibit yang diberikan ketika program Surabaya Pedas digulirkan pada Mei lalu.

Dan setelah lima bulan, cabai yang ditanam di kebun lombok RW 07 itu telah terlihat hasilnya. “Ini semua berkat kesatuan warga yang bahu membahu menanam dan merawat. Kami punya jadwal piket untuk perawatan dan pengamanan,” ujarnya. Bramasta berharap, panen cabai urban farming di wilayahnya tidak sekali saja. Tetapi, ada harapan agar upaya menanam cabai ini berkelanjutan. Bahkan, tidak hanya di RW 07, tetapi juga meluas di wilayah-wilayah lain Kecamatan Rungkut dan juga kecamatan lain di Surabaya.

Sehingga, Surabaya akan terkenal sebagai penghasil cabai. “Dimulai dari RW 07, kami ingin Kecamatan Rungkut muncul sebagai kawasan penghasil lombok. Kami ingin mewujudkan swasembada cabai. Jadi, bila ada kenaikan harga cabai, kami tidak perlu khawatir,” tambah Bramasta. Selain panen cabai urban farming, acara tersebut juga diramaikan dengan bazar UKM Kecamatan Rungkut dan juga koperasi toko kelontong. Wali kota juga menyerahkan piala kepada tiga kecamatan pengelola bibit cabai terbaik, yakni Kecamatan Rungkut, Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Semampir.

jawapos.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :