Transformasi Perekonomian Berbasis Industri, Petani Harus Move On!

  • Kategori Ekonomi --
  • Rabu, 13 September 2017 17:00
Transformasi Perekonomian Berbasis Industri, Petani Harus Move On!

Perekonomian Indonesia kini dinilai tengah bertransformasi dari negara agraris menuju industri. Transformasi struktural perekonomian Indonesia ditandai dengan semakin tumbuh.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2003 sebesar 15,2 persen berangsur menurun tahun 2013 menjadi 13,5 persen. Sementara Sensus Pertanian 2003 (ST2003, BPS) menunjukkan Rumah Tangga Petani (RTP) semula berjumlah 31,23 juta RTP menurun pada ST2013 menjadi 26,13 juta RTP atau turun 16,3 persen selama sepuluh tahun.

“Proses transformasi ekonomi ini adalah wajar dan semestinya memang begitu. Pada sebagian negara negara maju pun, dulunya juga negara agraris dan bertransformasi menjadi negara industri dan jasa,"ujar Plt Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Suwandi, Rabu (13/9).

Menurut dia, dalam kurun sepuluh tahun (2003-3013) terjadi penurunan 5,1 juta RTP atau setara 21 juta anggota petani. Namun demikian, transformasi struktural ini tidak langsung membuat pertanian ditinggalkan. Dalam kondisi tertentu, pertanian menjadi tumpuan akhir ketika sektor lain terjadi masalah.

"Ingat ketika krisis ekonomi 1998, pertanian tetap tumbuh dengan menyerap banyak tenaga kerja," ujar Suwandi.

Suwandi menjelaskan sejatinya telah diantisipasi pergeseran tenaga kerja pertanian ke usaha hilir pengolahan dengan nilai tambah yang tinggi, ke sektor industri dan jasa, sehingga petani yang ada mengelola lahan lebih luas per individu. Selanjutnya tenaga digantikan mekanisasi lebih efisien dan ujungnya adalah mereka sejahtera.

"Kondisi tenaga kerja pertanian inilah yang merisaukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Proses transformasi ini harus dikelola dan dikawal dengan baik. Mesti dipastikan tenaga kerja yang keluar dari pertanian tertampung ke sektor lain," jelasnya.

Karena itu, Suwandi menegaskan petani harus "MoveOn". Artinya, tidak saja bekerja di on-farm tetapi bergerak ke sektor hilir. Hilirisasi inilah yang akan memberikan menyerap jutaan tenaga petani, memberikan nilai tambah dan menyelamatkan jutaan petani di pedesaan menjadi sejahtera.

"Diilustrasikan, apabila tidak ada pangan atau orang lapar itu bisa nekat melakukan apa saja. Ekstremnya nekat bertindak negatif, umpamanya nekat menjadi begal, kenakalan remaja, bahkan lebih ekstrem lagi “lari” ke terosis, ISIS dan lainnya. Ini maksudnya sekedar sebagai gambaran betapa pentingnya ketersediaan pangan," tegasnya.

jawapos.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :